Agus Fatah:Penyair Peduli Pendidikan dan Lingkungan Itu Telah Kembali Kehadirat Ilahi

FOKUSATU-Jagad kesusasteraan Indonesia berduka di bulan Juli ini. Salah seorang sastrawan besar Indonesia telah kembali kehadirat Ilahi.

*”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”* telah meninggal dunia Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono di Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan pada hari ini 19 Juli 2020, pukul 09.17 WIB.

Beliau adalah penyair besar Indonesia yang karya karyanya mendunia dan abadi di kenal oleh beragam generasi. Salah satu diantara puisi beliau yang abadi dihati para pecinta puisi adalah puisi berjudul : Hujan Bulan Juni

*Penyair Religius*

Bapak Sapardi dikenal sebagai penyair religius, karya karyanya kental dengan nuansa sufi, beliau sering mengangkat tema bernuansa keagamaan dan alam dengan caranya yang khas, dan berkelas.

Saya merasa sangat religius dalam puisi-puisinya saya, dalam pengalamannya. Ada rasa keagamaan dalam karya itu. Hampir seratus persen karya saya tidak mengebu-gebu, bahkan mungkin ada yang mengatakan, Sapardi itu puisinya sufi. Itu semacam keinginan untuk memahami sesuatu yang memang tidak mungkin saya pahami. Ada kekuatan yang tidak bisa saya pahami, tapi saya terus menerus berusaha memahami itu. Semuanya bisa kekuatan spritual, kenyataan alam, apa saja. Jadi bagi saya, puisi-puisi saya sangat religius, meski mungkin orang lain tidak melihatnya seperti itu. Ketika menyebut adzan maghrib, tempat ibadah atau lainnya, bukan sosoknya, tapi suasananya.
Demikian menurutnya saat diwawancarai majalah Tarbawi, September 2008)

Puisi-puisi karya pak Sapardi bisa ditafsirkan dan dinikmati siapa saja mulai dari pemuda yang sedang jatuh cinta hingga kalangan intelektual yang sedang mencari makna kontemplatif dari setiap peristiwa.

Beliau adalah penyair dengan karya-karya yang membumi, dan merefleksikan realitas. Puisi-puisinya bukan puisi biasa, sebagian besar puisi bernuansa kontemplatif, filosofis- eksistensialis. Coba simak puisinya yang satu ini:

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga,
sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.

“Tapi yang fana adalah waktu, bukan? ”
Tanyamu.
Kita abadi

*Penyair Pembelajar Sejati Yang Rendah hati*

Bapak Sapardi Joko Damono adalah sosok penyair yang terus membaca dan menulis hingga akhir usianya. Bahkan beliau tak pernah puas dengan pencapaian yang telah diperolehnya, terus mencari pencapaian yang tak pernah usai ( karyanya: Puisi Sihir Hujan yang memuat 51 Sajak pada november 1983 mendapat penghargaan Puisi Putra II dari Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia dan Kumpulan syair Perahu Kertas mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta tahun 1983). Alumni Basic Humanities Program, Universitas of Hawaii, Honolulu, AS (1970-1971) adalah pembelajar sejati

Disamping itu, Bapak Sapardi Djoko Damono juga dikenal sebagai pribadi yang tenang dan rendah hati, begitu kesan para kolega dan mahasiswanya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

*Penyair Peduli Pendidikan*

Mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini adalah sosok yang
peduli pada pendidikan di Indonesia. Menurut penyair bersahaja ini, ada yang salah dengan pendidikan di Indonesia.
Beliau pernah menulis artikel tentang pendidikan : ditahun 1954, seorang tokoh pendidikan mengeluh, kenapa anak- anak masuk sekolah seperti masuk mesin penggilingan, pokoknya yang diperlukan kelulusan, ijazah bukan pengetahuan yang diterima. Sejak tahun 1950-an kita sudah merasakan itu, dan terjadi terus hingga kini.

Mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini, berpendapat bahwa pendidikan harus diarahkan pada kreatifitas individu, yang akan terus berkembang.
Beliau mengusulkan sebaiknya belajar bahasa bukan belajar rumus-rumus, tapi membaca. Bayangkan kalau sejak SD sampai SMA selama dua belas tahun anak-anak disuruh membaca saja, memahami bacaan, mendiskusikan bacaan. Mereka pasti jadi orang pintar. Tidak usah diberi tahu ini subyek, ini predikat untuk apa. Beri mereka bacaan-bacaan yang kontroversial, “bertengkar” di kelas, berikan bacaan dari iklan, editorial, segala macam. Anak-anak harus tahu pidato politik yang gombal-gombal itu. Harus tahu bagaimana menulis. Kita masih kurang dorongan ke arah keberaksaraan (literasi). Padahal sekarang kita masuk dalam zaman informasi, renungan, gagasan, kreatifitas harusnya dinyatakan secara gamblang dalam tulisan.

*Penyair Peduli Lingkungan*

Bapak Profesor Sapardi Djoko Damono adalah sosok penyair yang peduli lingkungan. Beliau adalah penyair besar dengan karya yang membumi, dipuji dan dicintai. “Penyair itu tidak boleh memisahkan diri habis-habisan dari lingkungannya, ia harus peduli dengan lingkungannya, tidak bisa seperti bertapa terus, itu gombal. “begitu menurutnya. Maka tak heran kalau dibelakang rumahnya dibangun kolam-kolam ikan yang dikelola lembaga kemasyarakatan untuk pengembangan warga. Guru besar sastra Universitas Indonesia ini memang tidak” terputus” dari “dunia luar”. Kepeduliannya pada lingkungan dan pendidikan patut dijadikan teladan.

Kau bilang aku burung?
Jangan sekali-kali berkhianat
kepada sungai, ladang, dan batu
Aku selembar daun terakhir
yang mencoba bertahan di ranting
yang membenci angin
Aku tidak suka membayangkan
keindahan kelebat diriku
yang memimpikan tanah
tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku
ke dalam bahasa abu
Tolong tafsirkan aku
sebagai daun terakhir
agar suara angin yang meninabobokan
ranting itu padam
Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
untuk bisa lebih lama bersamamu
Tolong ciptakan makna bagiku
apa saja — aku selembar daun terakhir
yang ingin menyaksikanmu bahagia
ketika sore tiba.

(Sajak Tafsir karya Sapardi Djoko Damono)

  1. Selamat jalan Bapak Sapardi Djoko Damono, menuju alam abadi. Insya Allah karyamu tetap abadi di hati, dicintai dan dipuji karena ia lahir dari jiwamu yang rendah hati dan insya Allah karya-karya tersebut menjadi saksi bahwa anda begitu berarti.
    Al Faatihah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *