Prof H. Yuddy Chrisnandi : Kepeloporan Ki Sunda Mengembalikan Keasrian Citarum

FOKUSATU-Sebagaimana dilansir beberapa media nasional beberapa waktu lalu, Bank Dunia berencana akan memberikan dana hibah 100 juta USD, setara dengan Rp. 1,4 triliun kepada Pemerintah Daerah Jawa Barat. 

Dana tersebut dimaksudkan untuk membiayai program rehabilitasi sepanjang sungai Citarum .
Kabar baik ini adalah sebuah kesempatan yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, oleh kita semua, warga Jawa Barat, lebih khusus yang tinggal di daerah sekitar dan sepanjang aliran sungai Citarum.

Aliran Sungai Citarum membentang sepanjang lebih dari 300 km. Hulu sungai berawal dari lereng gunung Wayang, sebelah tenggara Bandung. Sungai Citarum mengalir melewati Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta dan berakhir di muara Kabupaten Karawang. Tidak kurang dari 25 juta orang kehidupannya bergantung dari sungai ini. Ada tiga waduk PLTA yang dibangun dari aliran Citarum. Bahkan lebih dari 500 pabrik berdiri disekitar sungai. Ironinya, Sungai dengan nilai sejarah ekonomi dan sosial yang penting ini, sejak tahun 2007 menjadi salah satu sungai dengan tingkat pencemaran tetinggi di dunia.

Pertumbuhan populasi

Pertumbuhan hunian akibat bertambahnya jumlah penduduk, termasuk yang berdatangan dari daerah lain, berkembangnya kawasan industri yang memadati area DAS (daerah aliran sungai) Citarum, dalam 40 tahun kebelakang, telah menimbulkan berbagai persoalan lingkungan hidup. Persoalan yang terbesar adalah masalah sampah, baik sampah rumah tangga maupun sampah industri yang berbahaya. Puluhan tahun, aliran sungai Citarum layaknya sebagai tempat sampah terpanjang di dunia. Akibatnya, kualitas air memburuk, daya dukung sungai menurun drastis, pada akhirnya menjadi sumber bencana berupa banjir, timbulnya berbagai penyakit dan rusaknya ekosistem sepanjang DAS.

Penanganan sampah di aliran sungai Citarum tentu tidak cukup hanya dengan pekerjaan teknis berupa pembersihan fisik dan pembangunan infrastruktur saja, namun tak kalah penting adalah bagaimana melibatkan masyarakat dan kalangan industri yang berada di daerah aliran sungai untuk turut aktif menjaga lingkungan dari sisi hulu sampai ke arah hilir atau muara sungai. Bagian terakhir inilah yang tentu memerlukan suatu program khusus yang terkoordinasi baik diantara pemerintahan pusat, pemerintah Provinsi, Kota dan Kabupaten yang dilaluinya, juga terlibatnya unsur masyarakat, pengusaha, kelompok industri yang merupakan sumber dari semua persoalan pencemaran sungai Citarum selama ini.

Pemulihan kesehatan sungai Citarum yang telah berjalan selama ini baik yang dikelola oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, atau yang diprogramkan oleh Pemeritah Daerah Jawa Barat dan juga didorong oleh Pemerintah Pusat melalui Peraturan Presiden (PerPres) No. 15/2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum rupanya belum tuntas dan masih memerlukan penanganan berkelanjutan yang membutuhkan biaya besar sehingga kondisi ini menarik perhatian Bank Dunia.

Implementasi Kajian Ilmiah

Sudah banyak kajian teknis dan juga penilitian yang dilakukan oleh pemerintah, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat di dalam negeri maupun asing yang mengkaji perihal penanganan lingkungan hidup sungai Citarum. Selain itu sudah banyak pula seminar ataupun kajian ilmiah yang berfokus pada perilaku sosial masyarakat di kawasan aliran sungai, yang salah satu kesimpulan akhirnya adalah melakukan edukasi berkesinambungan kepada masyarakat. Menurut hemat saya, kita perlu memberi perhatian seksama untuk melakukan social engineering melaui proses pelibatan masyarakat turut bertanggungjawab dan terlibat dalam pemulihan Citarum, agar berjalan lebih cepat dan efektif.

Pemerintah bersama unsur-unsur masyarakat dapat mengambil hasil-hasil kajian ilmiah yang sudah ada sebagai referensi program yang akan dilaksanakan, karena bagaimanapun penelitian yang sudah dilakukan oleh para akademisi maupun lembaga itu memiliki kecukupan landasan ilmiah yang layak untuk dilaksanakan. Implementasi atau pelaksanaan program pemulihan kesehatan sungai Citarum harus bersifat holistic, jangan terjebak pada hasrat pembangunan fisik infrastruktur saja namun mengabaikan pemahaman masyarakat yang selama ini acuh terhadap lingkungannya. Peradaban masyarakat di DAS sungai Citarum harus direhabilitasi dan dipulihkan menjadi masyarakat yang peduli terhadap kebersihan sungainya, kemudian membangun kesadaran untuk memelihara kelestarian Alam sekitarnya.

Kearifan Budaya Sunda terhadap lingkungan hidup

Sebagai bagian dari warga Tatar Sunda, saya pribadi menyambut gembira rencana hibah Bank Dunia untuk menyehatkan sungai Citarum, karena saya berkeyakinan bahwa pemulihan ekologi sungai Citarum akan memberikan dampak besar terhadap meningkatnya kualitas hidup dan perekonomian puluhan juta warga Jawa Barat yang berada di daerah aliran Citarum ini. Oleh karenanya rencana penggunaan dana Hibah Bank Dunia tersebut harus benar-benar mampu memberikan perubahan yang mendasar, baik pada target pembersihan aliran sungai, pengembalian fungsi sungai, kesehatan air sungai dan fungsi sungai sebagai sumber kehidupan alam. Rakyat harus di edukasi secara masif untuk memiliki tanggungjawab menjaga kelestarian lingkungan hidup, kelestarian alam, termasuk keasrian kembali sungai Citarum. Karena rakyatlah yang menjadi kontributor utama baik buruknya Citarum saat ini dan masa yang akan datang.

Dalam budaya masyarakat Sunda, sejak dahulu sebenarnya sudah tertanam dalam sikap perilaku hidup kesehariannya yang menyatu dengan alam. Norma-norma adat Kasundaan juga penuh dengan filosofi penghormatan pada alam yang mengekspresikan kesadaran bahwa manusia dan alam harus menyatu sebagai satu tatanan yang harmonis
Kepeloporan Ki Sundadan saling membutuhkan.

Menjaga kelestarian lingkungan hidup bagi masyarakat Sunda
merupakan salah satu unsur penting tatanan kehidupan sosial budayanya. Dalam setiap ritual adat selalu disisipkan simbol-simbol penghormatan pada alam berupa wujud visual berbentuk dedaunan, gunung, hewan liar, sungai dan lainnya. Orang sunda selalu mengkaitkan fenomena alam sebagai penanda dalam melaksanakan kegiatan bertani. Orang sunda selalu mengacu pada tanda-tanda alam untuk menentukan waktu yang tepat kapan memulai bercocok tanam, kapan yang tepat saatnya melakukan pengolahan tanah dan lain sebagainya. Masyakat Sunda pun memiliki banyak pantangan yang mereka patuhi untuk menjaga lingkungan hidupnya.

Nilai-nilai luhur budaya Sunda sejatinya memberi petunjuk yang tepat bagaimana masyarakat Sunda bercengkrama dengan lingkungannya. Sebagai contoh dalam bertani, orang Sunda akan terlebih dahulu menggunakan tanah datar untuk dijadikan ladang ketimbang mereka memangkas hutan untuk membuat lahan bercocok tanam. Orang Sunda juga menggunakan daerah cekungan untuk dijadikan kolam atau penampungan air. Hutan lebat (leuweung gledegan) mereka jaga, perambahan hutan dilakukan setelah melalui musyawarah dengan para sesepuh dan memperlakukan sungai sebagaimana menjaga ladang- ladang tanaman. Bagi masyarakat Sunda, lingkungan hidup dihormati, dijaga, dirawat dan dilestarikan. Nilai-nilai kearifan lokal inilah yang seiring waktu dan perkembangan zaman meluruh, nyaris hilang, kini kita merindukannya kembali.

Dalam konteks ini, pudarnya kearifan budaya Sunda di tengah masyarakat Jawa Barat dalam penghormatan terhadap lingkungan hidup merupakan sebuah kehilangan besar yang berdampak luar biasa pada perubahan lingkungan hidup. Dampaknya seringkali kita lihat akhir-akhir ini berupa bencana tanah longsor dan banjir yang menelan korban harta benda dan jiwa dalam jumlah yang besar.

Oleh karena itu, sekali lagi, proses edukasi masyarakat saat ini harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Pertama, melalui pendidikan formal dari mulai bangku Sekolah Dasar hingga seluruh Civitas Perguruan Tinggi yang ada di Jawa Barat utamanya The Central of Excelence seperti Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia dan lainnya, harus melibatkan diri secara aktif. Kedua, pelibatan tokoh-tokoh agama, ulama, pimpinan Pondok Pesantren untuk turun membina, menyadarkan dan mamatahan masyarakatnya. Ketiga, mengajak para seniman dan budayawan untuk turut menyisipkan pesan-pesan lingkungan hidup dalam berbagai kegiatan seni budaya ditengah masyarakat Jawa Barat. Keempat, bekerja sama dengan TNI dan Polri, perangkat pemerintahan kecamatan maupun desa untuk terus menngkampanyekan Citarum bersih, serta terlibat dalam program rehabilitasi Citarum secara aktif. Kelima, menggunakan media massa secara gencar untuk terus mempromosikan gagasan, petunjuk praktis dan tuntunan bagi masyarakat dalam menjaga kesehatan sungai. Dan yang keenam, tegakkan hukum secara tegas terhadap pelaku pengrusakan lingkungan di sektor hulu hingga muara sungai, terutama terhadap perusahaan atau industri yang mencemari aliran sungai. Diperlukan political will yang kuat dan tindakan tegas pemerintah terhadap pelanggaran yang dilakukan perorangan atau korporasi yang berakibat kerusakan kualitas DAS maupun air sungai Citarum, yang menjadi tumpuan kehidupan lebih dari 25 juta rakyat Jawa Barat.

Sebagai penutup, mari kita sambut gembira berita baik dari Bank Dunia yang akan memberikan dana hibah untuk Rehabilitasi Citarum, dengan partisipasi aktif seluruh rakyat Jawa Barat di dalamnya. Ki Sunda di Tatar Sunda, kudu mengawal dan mengawasi penggunaan dana hibah tersebut yang cukup besar. Bukan sekedar untuk pembangunan fisik perbaikan Citarum, tetapi digunakan juga untuk menjaga kelestarian alam sungai Citarum, yang harus bersih, sehat, nyaman, berfungsi sebagai sumber kehidupan mahluk yang hidup disekitarnya. Ini bukan sekedar tugas Pemerintah Daerah atau Pemerintah Pusat, tapi ini tugas dan tanggungjawab kita semua, urang sunda. Dana hibah Bank Dunia tersebut, bukan milik pemerintah Jawa Barat atau Pemerintah Pusat semata, tapi milik rakyat Jawa Barat untuk melestarikan kembali keasrian sungai Citarum. Karena itu, kita harus turut berpartisipasi di dalamnya. Mari kita awasi penggunaan pemanfaatannya dengan benar, bijaksana dan efektif untuk mengembalikan keasrian Citarum. Mari kita jaga Alam, dan Alam akan menjaga kita.

Tulisan Prof Dr.H. Yuddy Chrisnandi ME SH Berjudul KEPELOPORAN KI SUNDA MENGEMBALIKAN KEASRIAN CITARUM dimuat dalam Buku Berjudul DARI KIEV MENULIS INDONESIA Penerbit Madani Institute Cetakan Pertama Terbit Oktober 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *