KH Abdi Kurnia : Masihkah Iman Itu Ada?

FOKUSATU-Dulu, sahabat Rasulullah seperti Ammar bin Yasir radhiyallahu anhu, selalu dihantui rasa takut setelah dengan terpaksa mengucapkan, bahwa ia telah “kafir” terhadap Nabi Muhammad dan ajarannya.

Ucapan itu ia sampaikan secara terpaksa untuk menghentikan siksaan para tokoh Quraisy yang terus mengintimidasinya agar keluar dari barisan Nabi Muhammad. Ammar bin Yasir pun tidak kuat melihat kedua orang tuanya, Yasir dan Sumayyah dibunuh secara keji hanya karena mengatakan “Lā ilāha illa Allah Muhammadur Rasulullah”.

Para pemuka Quraisy pun senang melihat sikap Ammar yang “berubah”. Ia pun dibebaskan dari hukuman, walaupun status budak tetap disandangnya.

Senangkah Ammar dengan pembebasan itu. Ternyata tidak. Ammar terus dihantui rasa bersalah karena telah mengucapkan kata “kafir” kepada sang Nabi yang menjadi panutannya.

Di hadapan sang Nabi tercinta, Ammar menangis sejadi-jadinya. Tangis itu bukan karena melihat kedua orang tuanya mati dibunuh di hadapan mukanya. Tapi, tangis Ammar itu karena takut kehilangan iman kepada Sang Nabi. Iman, yang ia yakini akan menyelamatkan dirinya dari pertanyaan akhirat.

Ammar pun memberanikan diri bertanya kepada sang Nabi, apakah ia telah keluar dari iman? Nabi yang bijak pun tersenyum melihat kegelisahan umatnya itu. Dengan tatapan yang teduh, dan suara yang terdengar bijak, Sang Nabi bertanya, “bagaimana dengan hatimu Ammar?” Seakan ada harapan, Ammar menjawab, “hatiku tetap bersama ya Rasul Allah!” Nabi pun merespon, “alhamdu lillah”.

Jika Ammar yang masih dekat dengan Nabi, masih gusar dengan kondisi keimanannya, bagaimana dengan umat akhir zaman ini? Jarak waktu mereka sangat jauh dari sang Nabi. Berbagai macam pemikiran terus bermunculan “mengganggu” iman mereka. Tapi, jika dilihat dari medsos, tampaknya umat akhir zaman ini tidak pernah bertanya tentang kondisi iman mereka.

Barangkali keberadaan habib, kiai, ustadz, syekh, buya atau mulla telah dianggap cukup menjadi garansi matangnya keimanan mereka. Sehingga, boleh jadi, tidak perlu lagi muncul sikap seperti Ammar bin Yasir, yang oleh sebagian orang sekarang, dianggap lebay.

Padahal, kata Nabi shallallāhu alaihi wa sallam:

الايمان يزيد وينقص

Iman itu (bisa) bertambah dan (bisa) berkurang..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *