Dr Supangat : Tanggapan Webinar Mendikbud (Perspektif Pengamat dan Praktisi Sekolah)

FOKUSATU-Sosialisasi kebijakan empat kementrian (Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, & Kementerian Dalam Negeri) pada senin kemarin sore tanggal 15 Juni 2020, dapat dikategorikan sukses. Karena kegiatan ini mampu menyedot peserta diskusi yang sangat banyak terutama kalangan pendidik dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi, orang tua, pengamat pendidikan juga pegawai pemerintah daerah dan kesehatan.

Webinar tersebut memang difokuskan pada issue pendidikan, yang dari awal Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan (Kemendikbud) sangat dominan. Dari sekian banyak issue pendidikan terlihat fokusnya pada menyambut tahun ajaran baru nanti pada tanggal 13 Juli 2020. Pertanyaan sederhana yang dinanti adalah apakah siswa mulai masuk pada tanggal tersebut?

Dalam penjelasannya dengan jelas mendikbud menyampaikan kebijakannya sebagai berikut: hanya sekolah yang berada di zona hijau yang boleh mengatur siswanya untuk masuk ke kelas seperti biasanya, tentu dengan persyaratan yang sangat ketat dan berlapis, sementara untuk kabupaten/kota yang zona kuning dan merah tidak diizinkan untuk mengaktifkan siswanya di sekolah, mereka hanya diperkenankan dengan daring (online) atau pembelajaran jarak jauh.

Kebijakan ini memang sangat aman (atau mencari aman), karena Kemendikbud hanya sekedar mempertimbangkan kesehatan semata, padahal berbagai kementerian di pemerintah pusat sudah menunjukkan keberpihakan sesuai dengan ranahnya masing-masing, misalnya Kementerian Perhubungan dengan kebijakan mengoperasikan transportasi udara laut & darat, Menteri Agama menghidupkan kembali masjid dan mushola, kementerian bidang ekonomi menghidupkan kembali mall dll.

Harusnya, momen webinar kemarin dijadikan ajang bagi Kemendikbud menunjukkan kebijakan yang berpihak pada pendidikan sehingga semua pemangku pendidikan merasakan bahwa mendikbud mendukung memaksimalkan lembaga pendidikan di Indonesia. Mendikbud harus membuktikan bahwa sektor pendidikan itu sangat penting dan harus dihidupkan secara maksimal, misalnya mengaktifkan kembali guru-guru untuk mengajar di sekolah walau mungkin murid/siswanya masih di rumah, memberikan kemudahan siswa mengakses internet dengan memberikan free atau diskon khusus untuk para pelajar dan seterusnya.

Beberapa pertanyaan dari kebijakan kemarin juga akan bermunculan seperti kebijakan tersbut hanya berimbas pada 6% siswa (zona Hijau) sementara yang 94% lainnya belum jelas yang penting dilarang ke sekolah dan online, durasi pembelajaran jarak jauh dari pertengahan Maret hingga Desember (bahkan berpotensi lebih) bukan waktu yang sebentar, Siswa sudah sangat bosan dengan pembelajaran online selama ini, Santri yang juga tidak tahu kapan kembali lagi ke pesantren, hingga beberapa sekolah swasta sudah mendekati gulung tikar akibat tunggakan dan keengganan orang tua membayar.

Bagi lembaga pendidikan khusunya sekolah, pada kondisi sekarang membutuhkan banyak hal yang bersifat praktis bukan sekedar siswa masuk atau tidaknya ke sekolah, namun protokol kesehatan dari masuk lokasi sekolah hingga dalam kelas bahkan protokol meja kursi, tas & alat tulis. Sekolah juga menunggu panduan dan pendampingan KBM online, PPDB, MPLS, upacara, perayaan keagamaan, fieldtrip, PAS/PAT & ujian praktek, hingga wisuda yang semuanya online. Panduan orang tua mendampingi pembelajaran anaknya juga hal yang masih diawang-awang padahal anak sudah bersama orang tua mereka lebih dari 3 bulan.

Untuk itu Kemendikbud perlu melakukan webinar sekali lagi dan menunjukkan keberpihakan kementerian pada dunia pendidikan (termasuk empati dengan sekolah swasta) bukan sekedar kesehatan semata. Semoga tulisan ini bermanfaat.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *