AMR : Perang COVID-19 Dan Mampir Di Jembatan Bersejarah

FOKUSATU-Dari Pos RW.001 kami menyusuri jalanan gang sempit pemukiman padat penduduk di Cikini Ampiun. Kawasan ini memang sejak lama, ketika masa kolonial Belanda dan revolusi fisik kemerdekaan, telah menjadi pemukiman padat di Jakarta. Bersama Tiga Pilar Kelurahan (Babinsa, Babinkamtibmas, Pengurus RW, LKM dan FKDM RW.001). Dari pemukiman padat penduduk kami tiba di pasar rakyat yang juga dengan kondisi teramat padat.

Pasar Rakyat Cikini Ampiun dari Gang Pasar Kembang Cikini yang kesohor itu masuk kepemukiman padat sebuah pasar dengan hanya jalanan gang satu meter sepanjang lebih dari tiga kilo meter. Kiri kanan bangunan ruko rakyat sebagian sudah dengan bangunan yang baik sebagian lagi hanya bangunan kayu seadanya. Pasar itu terbentang dari belakang Cikini Gold Centere sampai pembatas Anak Sungai Ciliwung. Pada ujung Gang Pasar Rakyat Cikini Ampiun itu, sebuah Jembatan besi yang sudah kusang menjadi penghubung antara Cikini dan Kenari.

Segala jenis kebutuhan pokok diperdagangkan di pasar ini. Penjual daging, penjual ikan, toko beras, penjual sayur, mainan anak-anak, toko baju, penjual pakain dalam, toko sembako, penjual kopi, tukang cukur, warung makan, toko kue, penjulan buah-buahan, pedagang kue gerobak, pedagang gorengan dan seterusnya, pedekata pasar ini menyajikan kebutuhan dasar pokok warga Cikini plus. Beberapa pedagang senyum terlihat dari balik masker yang digunakan tapi tidak jarang juga ada saja yang senyum sinis, mungkin mereka lelah, meski wajah tidak bersahabatnya terlihat juga dari balik masker yang digunakan kami tetap memberi senyum terbaik menyapa. Kasadaran wabah ini bukan hanya melanda kami tetapi seluruh dunia dan bukan juga penyakit kerana perilaku asusila, ini “hanya” soal lebiasaan sehari-hari yang perlu kami tata kembali.

Berjalan berbaris dengan jarak satu meter rombongan Tiga Pilar Kelurahan ini dipimpin Bapak Lurah Parsio. Dengan memanggul Toa Megaphone ZR-2015S yang dilengkapi Sirine. Toa Megaphone ini juga menggunakan tali gantungan di Pundak memudahkan pengguna berorasi. Bapak Lurah Parsio dari balik masker yang digunakan bersemangat mengucap himbauan kesehatan masa pandemic COVID-19 kepada warga pedagang juga penjual. “Bapak, Ibu harap tetap menjalankan protokol kesehatan, untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Apa yang dilakukan para Aparat Sipil Negara (ASN) pada level wilayah ini hanyalah himbauan dan menjadi jembatan koordinasi warga ke struktur atas birokrasi.

Kami tetap konsisten dalam satu barisan, jalanan Gang Pasar ini memang hanya selebar satu meter, berjalan berjejar menyurupai Kesatuan Bebek ini bukan hanya menghemat penggunaan ruang pada jalanan Gang Pasar tetapi juga menghindari gesekan sentuhan dengan pejalan atau pengunjung pasar. Para pedagangan pada umumnya berada dibalik meja jualan dengan masker atau face fild beberapa juga menggunakan plastik penutup depan toko sebagai pembatas interaksi pembeli-penjual.

Sampai juga kami diujung Jalan Gang Pasar Rakyat Cikini Ampiun. Sebuah Jembatan Besi yang menus karena usia membuat rasa penasaran membatin. Jembatan Besi dengan panjang sekitar 50 meter dan lebar 2 meter menjadi penghubung antara Cikini Ampiun dan Kenari. Warga Cikini Ampiun menyebutnya Jembatan Kenari tetapi warga Kenari menyebutnya Jembatan Cikini. Ah…. Sebentar saja berfoto di jembatan ini, rupanya bukan hanya saya, beberapa yang lain juga memendam rasa ingin mengabadikan momentum di Jembatan Cikini-Kenari.

Tidak banyak yang mengetahui perihal keberadaan Jembatan Cikini-Kenari, warga kedua pemukiman padat ini (baca ; Cikini, Kenari) hanya mengetahui Jembatan ini dari cerita turun-temurun orang tua bahwa ini Jembatan Kolonial Belanda. Saya mencoba berselancar pada ruang dunia maya, juga tidak banyak informasi saya dapatkan kecualia keterangan detiknews.com tanggal 2 Juni 2017 dengan judul, “Menelusuri Jejak Jembatan, Jalur, dan Stasiun Rel Peninggalan Belanda”.

Dari keterangan detiknews.com inilah saya memperoleh keterangan Jembatan Cikini-Kenari adalah peninggalan Belanda dibangun sekitar tahun 1880an. Prioritas Jembatan ini pada awalnya sebagai Jembatan Rel Kereta menghubungkan antara Salemba dan Cikini yang terpisah Sungai Ciliwung. Pada zaman colonial Belanda dibangun Stasiun Salemba sebagai stasiun Sentaral penghubung dengan stasiun lain, sebelum dibangunya Stasiun Manggarai yang diresmikan pada tanggal 1 Mei 1918.

Posisi Stasiun Salemba kini berada dibelakang Pasar Kenari, Jl, Kenari II. Sebelah tenggara Stasiun Salemba kini rel beralih fungsi jadi jalan kampung. Stasiun Salemba merupakan stasiun penghubung utama ke Stasiun Keramat, Stasiun Keramat Sentiong, Stasiun Pegangsaan, Stasiun Tanah Abang, Stasiun Cikini Lama. Saat itu Perusahan Belanda yang menangani Kereta adalah Nederlands-Indische Spoorweg Maatschapijji. Tahun 1918 terjadi peralihan pengelolaan perkereta apian dari Perusahan Nederlands-Indische Spoorweg Maatschapijji ke Staats Spoorwegen.

Untuk Stasiun Pegangsaan tempat Kelurahan saya, menurut data Wikipedia pada laman https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Pegangsaan, Stasiun Pegangsaan (PGS) adalah stasiun kereta api non-aktif yang berada di Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat. Dahulu, stasiun ini mempunyai cabang menuju Stasiun Salemba. Jalur cabang ini digunakan untuk kereta api angkutan opium yang diangkut dari pabriknya dekat Stasiun Salemba. Namun, setelah paprik opium ini ditutup pada tahun 1981, jalur ini dinon-aktifkan pada tanggal 2 September 1981 karena tidak ada kereta api melewatinya lagi. Bekas stasiun ini dibongkar pada tahun 1989 saat pembangunan jalur kereta api layang Manggarai-Jakarta Kota.

Dari beberapa peninggalan Stasiun dan Jalur Kereta masa Kolonial Belanda antara Stasiun Salembe ke Stasiun penghubung lainnya, Jembatan orang antara Cikini Ampiun dan Kenari ini satu peninggalan yang masih dapat dilihat arsitektur bangunannya. Satu lagi pengelaman sejarah yang saya dapat selama Perang memutus mata rantai penyebaran Corona Virus, jadi kapan anda berkunjung ke Cikini mampirlah ke Jembatan Cikini Ampiun-Kenari.

Selesai. No. 1 Jl. Amir Hamzah, Kelurahan Pegangsaan.
AMR,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *