Tb A Kamil : Refleksi Politik Ditengah Pandemi COVID – 19,

FOKUSATU-Pada saat terjadi Wabah Virus Corona atau COVID-19 melanda Indonesia.Rakyat dibuat panik dengan adanya korban yang diumumkan oleh pemerintah di Depok.Rakyat berbondong mencari kebutuhan untuk kesehatan dirinya.Dari masker, handsanitizer dll mereka borong.

Korban terpapar COVID-19 terus bertambah, kepanikan semakin menjadi.Harga Masker, handsanitizer, handsoap dan bahkan bahan pokok melambung tinggi.Pemerintah Pusat maupun daerah mengambil langkah represifnya masing-masing.Tak disangka, pemerintah pusat dan daerah berlomba ingin menjadi terdepan dalam langkah awal menghadapi Wabah Corona atau COVID-19 di tanah air.

Bahkan publik mengetahui secara jelas, afisiliasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat berbeda.Berpusatnya kepentingan tersebut, menjadi rusak rasa kemanusian atau kepedulian para pejabat eksekutif.

Terlebih lagi, ketika PEMDA DKI menjanjikan hak rakyat atau bantuan sembako bagi masyarakat yang terdampak Wabah Virus Corona atau COVID -19 setiap 2 minggu sekali dari 9 – 12 April untuk tahap pertama dengan target 1,2 Jt KK tahap awal (Kartu Keluarga).
Betul ini terealisasikan, namun banyak catatan kekurangan dari data maupun pendistribusiannya.Masyarakat cenderung menyalahkan para Rt dan Rw yang mendata, padahal data tersebut menurut para pejabat daerah dalam hal ini RT dan RW tidak menau tentang proses pendataan dan pendistribusian-pun mereka cenderung hanya mengikuti proses dari Tingkat Kelurahan saja.

Faktor pendistribusiaan yang kedua tak kunjung terealisasi dengan sisa 2,4 jt KK.Ini kemanusiaan atau kepentingan politik saja? Teriakan dari warga kala itu tidak mendapatkan bantuan yang dijanjikan oleh PEMDA DKI.

Dan data dari Pemerintah Pusat pun tabrakan dengan data yang dipunyai oleh PEMDA DKI.Alhasil, penerima menerima 2 kali bantuan.Bobroknya komunikasi politik antar pejabat eksekutif bila dinilai dari permasalah yang terjadi.

Pemerintah yang diwakili oleh Presiden, turun langsung membagikan sembako dari dijalan itu terlihat dua kali dan mendatangi rumah penduduk.

Sedang, RT dan RW menunggu agar Para Pejabat Eksekutif dapat mem-fungsionalkan peran dari para RT dan RW dalam memerangi Wabah Corona atau COVID-19.Nyatanya, mereka duduk termangu melihat perang Pejabat Eksekutif di tengah wabah.

Sampai saya heran, para RT ataupun RW mengambil langkah dini.Mereka memilih dengan langkah berbeda dengan pemerintah yaitu menggalang rasa gotong royong untuk membantu masyarakat dilingkungannya agar yang betul sangat membutuhkan kiranya dapat memenuhi kebutuhannya.

Daya fikir kritis saya memuncak, ketika yang dilakukan para pejabat lokal RT & RW ini memberikan semangat gotong royong antar sesama.Pertanyaan ejakulasi, Siapa yang sebagi pengayom permasalahan Wabah Corona atau COVID-19 ? Lucunya Pejabat di Negeri ini.

Titik klimaks ejakulasi saya terjawab oleh Ibu MENKEU Sri Mulyani yang cantik dan aduhai.Pemerintah Pusat akan mengambil alih permasalahan sembako tersebut dan tanpa koordinasi PEMDA DKI.

Kapan perang dingin ini selesai ?
Sedang, Rakyat membutuhkan uluran tangan kalian terlebih lagi para masyarakat yang terkena dampak banjir bandang dan wabah corona dan penambahan permasalahan tagihan listrik yang naik.Belum puaskah kalian menyiksa kami ? (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *