Peringati Hardiknas BEM FIS UNJ Gelar Diskusi Bernalar “Membayangkan Pendidikan Indonesia Pasca Pandemi”

FOKUSATU-Departemen Pendidikan dan Penalaran BEM FIS UNJ 2020

Pada tanggal 2 mei 2020, telah dilaksanakan diskusi daring dalam rangka memperingati Hari
Pendidikan Nasional.

Di tengah kondisi darurat Coronavirus Disease (Covid-19). Diskusi yang
diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Penalaran Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta, yang memiliki tema “Membayangkan
Masa Depan Pendidikan Indonesia Pasca Pandemi” dengan mnegundang dua narasumber ahli
yaitu Prof. Dr. M. Japar, M. Si sebagai Dosen Fakultas Ilmu Sosial yang berfokus pada bidang
kebijakan publik serta
Dr. Dirgantara Wicaksono, M. Pd. MM, seorang pengamat pendidikan
dan Founder serta pembina dari organisasi pendidikan yang bernama Backpacker Teaching di
seluruh Indonesia.

Diskusi ini berjalan menarik, dengan diawali oleh pemaparan yang disampaikan Dr.
Dirgantara Wicaksono,
ia memberikan fakta-fakta realitas bagaiamana dampak pandemi
Covid-19 sangat mengganggu proses penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, fakta tersebut
adalah berupa adanya kesulitan akses pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang ditetapkan oleh
pemerintah pusat selama pandemi ini berlangsung.

Bahkan menurut Dr. Dirgantara,
ketidaksetaraan dalam berbagai aspek penyelenggara pendidikan seperti kualitas tenaga
pendidik yang melek teknologi dan jaringan serta kuota internet yang belum mampu tersentuh
pada seluruh wilayah di indonesia, makin menyulitkan penyelenggaraan PJJ terutama
pembelajaran di daerah-daerah terdepan dan tertinggal.

Prof. Japar pun mengamani pendapat yang disampaikan oleh Dr. Dirgantara, dengan
memberikan analogi bahwa kondisi masyarakat Indonesia saat ini yang hidup dalam 4 era,
yaitu agraris, industrialisasi, digital dan artifisial. Menurut Prof. Japar, adanya 4 era tersebut
menjadikan tantangan yang besar selama penyelenggaraan PJJ ini berlangsung, karena negara
tidak boleh meninggalkan masyarakat yang berada dalam segmentasi tiap-tiap era tersebut.

Dengan kondisi tersebut, tentu kita melihat bagaimana sulitnya membangun pembelajaran
yang efektif pada saat kondisi darurat pandemi Covid-19.

Selain itu, Prof. Japar mengatakan
bahwa kebijakan PJJ yang diterapkan oleh pemerintah merupakan kebijakan yang sudah tepat,
meskipun dalam segi pelaksanaan masih perlu evaluasi dan penyesuaian lainnya.
Pada sesi selanjutnya diskusi, prof Japar dan Dr. Dirgantara mencoba menyampaikan
bayangan penyelenggaraan pendidikan seperti apa yang akan terjadi pasca pandemi ini usai.

Kedua pembicara sepakat bahwa yang mungkin terjadi pada hari-hari esok setelah pandemi,
yaitu adanya polarisasi pendidikan kearah pengembangan teknologi yang masif serta dorongan
perubahan perspektif pelajar yang harus lebih gesit dan tanggap membaca keadaan zaman
sehingga pendidikan tidak lagi tertinggal atau belum mampu menyamai perkembangan yang
pesat di abad 21.

Dr. Dirgantara juga menegaskan, mungkin dimasa depan pembangunan
infrastruktur teknologi akan menjadi prioritas pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan,
selain itu pada masa depan orangtua di Indonesia akan muncul kesadaran kolektif tentang
pembelajaran yang sinergis antara pendidikan di keluarga dengan di sekolah.

Dalam sesi terakhir diskusi, Prof. Japar memberikan saran kepada pemerintah agar
lebih jelas dan konkret dalam menentukan kebijakan pendidikan serta juga pemerintah harus
menyiapkan pengamanan sosial terukur bagi masyarakat yang terdampak oleh pandemi Covid-
19, sehingga ketakutan akan adanya siswa/mahasiswa yang tidak bisa melanjutkan studinya
bisa diminimalisir karena secara konstitusional negara bertanggung dengan pendidikan
rakyatnya.

Sementara, Dr. Dirgantara lebih menyarankan pada pemerintah untuk
meningkatkan kualitas tenaga pendidik serta sarana dan prasarana yang memadai untuk belajar
berbasis daring.
Pada akhirnya, “Pandemi Covid-19 mengajarkan kita bahwa pendidikan indonesia yang
menghabiskan anggaran sekitar 500 triliun dalam setiap tahunnya masih belum siap
menghadapi perkembangan yang pesat di abad 21, kekurangan dan kekeliruan dalam
pelaksanaan kebijakan pendidikan darurat Covid-19 wajib dievaluasi agar pendidikan berjalan
tidak seadanya.

Seperti kata kanselir Jerman angela merkel untuk menang melawan pandemi
di butuhkan pemimpin yang baik dan bijak dalam mengambil keputusan, begitu negeri jerman
berjuang agar dapat memenangkan perangnya melawan Covid-19.
Dan mungkin pembelajaran
Berbasis daring dimasa depan akan semakin menjadi primadona bagi kehidupan masyarakat yang serba digital. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *