AMR : Islam Sebagai Solusi Problem Peradaban

FOKUSATU-Perdebatan yang akhir-akhir ini menyeruak di ruang publik yakni tentang dinamika bagaimana seharusnya menjalankan ritual agama dalam kondisi ketika dunia dilanda wabah Corona Virus 2019 (COVID-19). Menghadapi ini, umat beragama terbelah menjadi dua kelompok yang sama besarnya. Kelompok pertama menyuarakan agar tetap menjalankan ritual agama sebagaimana biasanya dengan keyakinan tentang ajal adalah ketuntuan mutlak dari Tuhan dan pun jikalau wafat dalam kondisi tersebut Ia tergolong wafat dalam iman agama. Kelompok kedua menyakini bahwa agama punya pilihan lain untuk tetap menjalankan ritual agama ditengah wabah dengan syarat dan hukum-hukum tertentu yang diatur dalam agama dan medis.

Pada kalangan umat Islam keterbelahan ini juga terjadi apalagi wabah COVID-19 berlangsung sampai dengan bulan Suci Ramadan gesekan antara dua kelompok sebagaimana disebut di atas semakin meruncing. Pada saat Ramadan umat Islam diseluruh dunia memang memanfaatkannya untuk memaksimalkan potensi ibadah. Tradisi Ramadan bagi seluruh masyarakat muslim diseluruh belahan dunia juga dihidupkan dengan perbanyak ibadah sosial atau ibadah muta’adiyah. Ibadah muta’adiyah adalah ibadah yang manfaatnya dirasakan oleh pelakunya dan dirasakan pula oleh orang lain, seperti mengeluarkan zakat, menyantuni anak yatim, dan menyedekahkan harta kepada fakir miskin. Sedangkan ibadah idividu disebut ibadah shirah yakni ibadah yang manfaatnya hanya dirasakan oleh pelakunya, seperti ibadah shalat, puasa, dan haji.

Sebagai bulan yang penuh rahmah dan keberkahan tradisi umat Islam saat Ramadan intensitas ibadah sosial mengalami kenaikan bahkan berkali-lipat. Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW tentang kemuliaan orang yang memberi makan orang berbuka puasa atau kemuliaan sholat tarawih dan dilipatgandakan amal perbuatan dibulan Ramadan menjadi spirit keimanan ibadah sosial ketika Ramadan. Kini ketika wabah COVID-19 menyerang dunia diskursus tentang kewajiban menjalankan Ibadah terutama sekali ibadah sosial, ditengah mewabahnya COVID-19 menjadi perdebatan yang alot dan bahkan sampai ke ruang-ruang publik masayarakat muslim, termasuk Indonesia sebagai penduduk muslim terbanyak di dunia.

Kelompok umat Islam yang ingin tetap melaksanakan ibadah sebagaimana biasanya saat tradisi Ramadan “menafikan” atau memandang remeh bahaya wabah COVID-19 dan cenderung beragama berdasar tradisi atau kebiasaan yang diwarisi secara turun-temurun. Kelompok ini tetap melaksanakan sholat wajib dan tarawih secara berjamaah di masjid juga melakukan ibadah sosial seperti santunan anak yatim, kegiatan pengajian dan kegiatan buka puasa bersama. Kelompok kedua yakni yang juga menjalankan ibadah tetapi dengan mengikuti prosedur tetap (protap) saat wabah COVID-19. Kelompok ini cenderung diliat sebagai perilaku umat yang mengkaji atau belajar dari sejarah panjang peradaban Islam mereka memilih untuk melaksanakan sholat wajib lima waktu serta sholat sunah lainnya termasuk tarawih di rumah masing-masing dipimpin kepala rumah tangga.

Menggunakan sudut pandang sosiolog Clifford Geertz, maka kecenderungan keterbelahan prilaku keagamaan saat ini dilatar belakangi oleh sejarah keberIslaman. Kelompok pertama yang tetap ingin melaksanakan perintah agama sebagaimana biasanya tanpa mengindahkan protap saat mewabah COVID-19 berangkat dari prilaku Islam abangan atau tradisional. Kelompok ini memeluk Islam secara “tradisional” atau turun-temurun. Mereka menjalankan perintah agama sebagaimana pengalaman hidup, termasuk di dalam tradisi keagamaan dimana kelompok abangan ini tumbuh berkembang. Perilaku-perilaku keagamana yang menyejarah menjadi tradisi keagamaan dan bahkan diyakini sebagai kewajiban dalam agama. Karena sampai kepada level mengganggap yang tradisi sebagai kewajiban seringkali pelarangan atau pembatasan seperti situasi mewabah COVID-19 saat ini dapat berujun perdebatan bahkan konflik.

Kelompok kedua yakni yang melaksanakan ibadah saat mewabah COVID-19 dengan protap medis yang standar. prilaku keberIslaman seperti ini meminjam istilah Clifford Geertz sebagai Islam Santri. Kelompok ini pada awalnya juga berasal dari Islam tradisional atau keturunan, yaitu orang berIslam karena kebetulan lahir dari Bapak dan Ibu beragama Islam dan juga umat Islam yang mualaf atau baru memeluk Islam ketika dewasa. Perbedaannya dalam perjalanan keberIslamannya kelompok ini menjalankan tradisi akademik dalam Islam atau belajar kembali Islam yang telah dipeluk. Karena keluasan dan kelenturan ilmu yang dipelajari kelompok Islam santri memiliki sudut pandang yang inklusif yakni keterbukaan sudut pandang memahami kondisi dan situasi yang sedang terjadi.

Dalam praktek menjalankan ibadah agama masa mewabah COVID-19, Islam santri belajar dari sejarah peradaban Islam yang sangat luas, misalnya bagaimana cara atau anjuran Nabi Muhammad SAW untuk menjalankan sholat saat mewabah virus. Islam santri tetap menjalankan ibadah sesuai protap medis dengan melaksanakan sholat di rumah bersama keluarga tanpa harus berjamaah yang lebih luas di masjid atau mushola, begitu juga dengan santunan anak yatim dan sedekah kelompok Islam santri pada masa mewabah COVID-19 melakukkannya dengan protap medis misalnya dengan tetap menjaga jarak atau menggunakan teknologi online.

Membaca dialog kedua kelompok ini, idealnya Islam sebagai agama yang pernah menjadi tonggak peradaban dunia pada kurun waktu abad ke 6 – 14 masehi menjadi pusat studi solusi atas problem-problem yang ada di masyarakat. Sebagai agama peradaban, Islam menjadi rujukan seluruh sendi kehidupan masyarakat dari sosial, politik, ekonomi, pendidikan, budaya, sejarah, kesehatan, sains, dan ideologi. Pusat-pusat studi Islam terbentang dari Timur Tengah (Baghdad), Eropa (Spanyol) sampai ke Nusantara (Aceh) menjadi labotorium ilmu pengetahuan dunia juga sebagai labotorium riset bagi ilmu kesehatan.

Cendekiawan Islam dikenal dan dicatat sejarah dunia sebagai ilmuan dunia sebut saja Ibnu Sina, Al Farabi, Al Ghazali, Al Kindi, Ibn Batuta, Al Jabar, Hamzah Fansuri, dan sebagainya. Mereka menjadi tolak ukur dan landasan dunia kala itu dan bahkan sampai sekarang atas segala macam problem predaban umat manusia. Termasuk didalamnya ketika wabah penyakit melanda dunia Ibnu Sina sebagai pakar dalam ilmu kedokteran memberi solusi diantara seperti yang disebutkan dalam karyanya The Canon of Medicine. Dalam hipotesanya, Ibnu Sina menjelaskan penyakit akibat mikoorganisme ini bisa sangat menular pada lingkungan sekitar. Mereka yang terinfeksi harus dikarantina untuk menekan kasus penularan. Ibnu Sina adalah dokter pertama yang mendesain metode karantina untuk mencegah penularan penyakit infeksi. Metode ini disebut Al-Arba’iniya atau the fortieth yang diterjemahkan sebagai quarantena dalam Venetian language awal. Sesuai namanya, Al-Arba’iniya adalah sanitary isolation yang dilakukan selama 40 hari dengan membatasi ruang dan gerakan. (detikNews, Rabu 8 April 2020).

Sebagai agama peradaban umat Islam harus dapat menghilangkan perdebatan yang sebenarnya telah ada aturan solusinya dalam bentangan sejarah panjang Islam. Sholat misalnya sebagai kewajiban yang mutlak, karena kemutlakan untuk dilaksanakan oleh setiap orang Islam yang dewasa dan waras maka pasti sebagai agama peradaban ajaran Islam telah mengatur dalam kondisi apapun juga baik sosial kemasyarakat atau kondisi pribadi kita pasti ada solusi agar sholat dapat dilaksanakan sesuai ketentuan hukum Islam. Misalnya sholat dalam kondisi perang fisik, sholat ketika sakit, sholat ketika dalam perjalanan dan bahkan sekarang sholat ketika kita perang melawan wabah. Seluruhnya ada solusinya, sebab ini agama peradaban.

Selesai.

Catatan tulisan ini hanya jawaban atas perdebatan batiniah pribadi saya, jangan diambil hati.

AMR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *