Agus Fatah : Semangat Literasi Para Ulama Ternama

FOKUSATU-Semangat mengembangkan budaya literasi (baca-tulis) dikalangan ulama terdahulu sungguh membuat kita terharu pada mereka dengan karya-karyanya yang bermutu dan malu pada prestasi literasi kita hari ini. Ditengah keterbatasan sarana dan media mereka mampu menghasilkan karya-karya luar biasa yang tak lekang ditelan zaman.

Bayangkan, ditengah keterbatasan sarana dan media mereka menghasilkan karya-karya monumental.
Orang-orang dahulu tidak saja kuat dalam soal membaca dan menelaah, tapi mereka juga kuat dalam menulis. Ada banyak kisah mengagumkan dari mereka.

Ibnu Jarir Ath Thabari rahimahullah, tokoh ilmu tafsir yang terkenal itu, setiap hari mampu menulis sebanyak 40 lembar, selama 40 tahun dari masa hidupnya. Total karya Ibnu Jarir mencapai 358.000 lembar. Beliau menulis kitab sejarah 3.000 lembar, tafsir Al-Quran 3.000 lembar. Sebelumnya, beliau pernah menawari murid-muridnya untuk menulis tafsir berlipat kali lebih banyak dari yang ada. Tapi murid-muridnya menjawab:

“Kita semua akan meninggal, sedang kitab tuan belum selesai kami baca”.

Lain lagi dengan Ibnu Aqil, ia menulis kitab yang paling spectakuler: Kitab Al-Funun sebanyak 800 jilid (menurut Ibnu Rajab), kitab ini memuat beragam ilmu. Ad Dzahabi mengomentari kitab ini :

“Tidak ada karya tulis yang diciptakan setara dengannya”.

Sementara Ibnu Jauzi menulis dalam sehari, setara empat buah buku tulis. Dengan waktu yang dimilikinya, ia mampu menghasilkan 2.000 jilid.

Ibnu Taimiyah juga seorang yang sangat kuat dalam menulis. Ibnu Syakir AlKatbiy berkata :

“Karya Ibnu Taimiyah telah mencapai 300 jilid.”

Menurut Ad Dzahabi bahwa karya Ibnu Taimiyah telah. mencapai 500 jilid.

Sedangkan Ibnu Qoyyim, murid Ibnu Taimiyah berkata :

“Aku telah menyaksikan bagaimana kuatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam mengikuti sunnah, berbicara, berjalan dan menulis”.

Subhanallah luar biasa karya dan kerja mereka, seandainya mereka tidak memiliki budaya literasi yang tinggi dan mendokumentasikan karya mereka dengan teliti, rasanya tidak mungkin kita bisa menimba ilmu orang-orang terdahulu yang kaya pengalaman dan beragama dengan sangat dalam.

Kita harus belajar dari para ulama ternama ini, bagaimana menjaga spirit literasi ditengah keterbatasan sarana dan media, mereka tetap berdaya, berkarya dan berjaya. Semoga kita bisa seperti mereka.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *