Mahdi D : Fase Terakhir Master Plan 2020 Kemenangan Taliban dalam Naungan Corona

FOKUSATU-Keruwetan militer dan politik itu terjadi di saat ancaman wabah Corona membayangi negeri. Ada sekitar 12.000 tentara AS di Afghanistan. Tetapi berdasarkan perjanjian yang ditandatangani antara Taliban dan diplomat Amerika bulan lalu, jumlah itu akan turun menjadi 8.600 dalam seratus hari ke depan.

Saat ini, puluhan personel Amerika dan anggota koalisi menunjukkan gejala seperti flu dan diisolasi, tetapi tes untuk virus Corona harus dikirim ke laboratorium NATO di Jerman. Setidaknya ada 22 kasus virus Corona yang dikonfirmasi di Afghanistan, tetapi pengujian sangat terbatas. Sementara ribuan orang dari Iran, negeri yang parah terpapar Corona, memasuki wilayah barat Afghanistan setiap hari.

Pejabat Eropa mengatakan bahwa pasukan untuk beberapa negara menggunakan karantina dua minggu sebelum memasuki Afghanistan. Militer Jerman mengatakan pasukannya yang pergi ke Afghanistan akan dikarantina selama dua minggu dan setiap pertukaran pasukan akan ditunda setidaknya selama dua minggu.

Namun rencana rotasi pasukan Eropa masuk dan keluar dari Afghanistan sulit dilakukan. Negara-negara Eropa diperkirakan akan mengikuti langkah Perancis menyebarkan militer di dalam negeri untuk menegakkan aturan karantina Corona. Negara-negara NATO pun kehabisan pasukan yang tersedia.

Tahun kemarin hal ini mungkin tak terbayangkan. Amerika Serikat dan Eropa kelihatannya tak mungkin kesulitan mengerahkan pasukan ke Afghanistan. Namun Wabah Corona mengubah situasi negeri mereka dengan signifikan. Kesulitan di dalam negeri akibat wabah mengganggu kekuatan militer mereka.

Situasi itu tak memungkinkan AS dan NATO untuk mengerahkan kekuatan militer besar-besaran. Bahkan seandainya perundingan damai dengan Taliban gagal, mereka tak bisa berbuat banyak melindungi bonekanya di Afghanistan. Kesulitan di dalam negeri dan dunia internasional menghalangi mereka menyerang Taliban.

Pembebasan Al-Aqsha

Di tengah situasi kacau itu, maka kemenangan Taliban sebenarnya tinggal menunggu waktu saja. Musuh utamanya, Amerika dan NATO, sudah hendak mundur di tengah kesulitan wabah Corona di negerinya masing-masing. Sementara rejim boneka Kabul menghadapi perpecahan internal, kekurangan dana bantuan dan ancaman wabah yang membayang.

Lalu, jika kemenangan di Afghanistan telah hampir dicapai. Setelah Kabul dikuasai, sisa 25 persen wilayah direbut dan negeri kembali ke pangkuan gerakan Islam, apa yang akan dilakukan Taliban dan Al-Qaidah?

Pimpinan Mujahidin gabungan Afghanistan, Ittihad al Islami, Syaikh Abdur Rabbir Rasul Sayyaf pernah ditanya hal yang sama. Yang bertanya adalah para wartawan Barat menjelang Futuh Kabul, sekitar tahun 1989. “Setelah Mujahidin menguasai Kabul dan seluruh Afghanistan, apa rencana berikutnya yang akan kalian lakukan?”

Abdul Rabbi Rasul Sayyaf

Mereka berharap jawaban yang lazim, seperti membangun dan menata negeri yang porak-poranda karena perang. Namun Syaikh Sayyaf memberikan jawaban yang mengejutkan, “Setelah Kabul dan Afghanistan futuh, berikutnya kami akan membebaskan Al-Aqsha di Palestina.“

“Tapi, bagaimana kalian ke sana?” para reporter bertanya sambil menahan senyum geli. “Bukankah kalian harus melewati negeri-negeri lain untuk sampai ke Palestina, bagaimana kalau mereka menolak kalian lewat wilayahnya?”

Dengan tenang Sayyaf menjawab, “Kami akan bebaskan negeri-negeri itu satu demi satu. Insya Allah.”

Semua wartawan menahan tawa, kisah ini bahkan tak muncul di media mereka. Barangkali para redaktur mereka menghapus liputan itu, menganggap Syaikh Sayyaf gila atau mabuk kemenangan. Rencananya terlalu absurd dan fantastik untuk diwujudkan. Bagaimana mungkin Mujahidin Afghan menaklukkan sekian banyak negeri sebelum mencapai Palestina?

Di atas peta, rencana itu bisa terwujud dengan membebaskan atau menaklukkan Iran, Irak, Suriah, Yordan dan terakhir Israel. Itu alternatif pertama, jalur terdekat melalui daratan. Alternatif lainnya adalah menaklukkan Pakistan, menyeberangi Laut Arab dan Teluk Oman, melintasi Teluk Persia dan melintasi Kuwait, Irak dan Yordan. Bisa juga belok ke selatan dari Kuwait dan melintasi wilayah Saudi.

Atau ada juga rute lain, memutar lewat Laut Arab, melintasi Baab el-Mendeb dan menyusuri Laut Merah sampai Terusan Suez. Artinya ekspedisi itu harus siap menghadapi penghadangan maritim di Yaman, Saudi dan Mesir. Namun kelihatannya yang paling mungkin adalah jalur darat yang pertama.

Namun pilihan itu seolah impian yang mustahil dilakukan oleh Mujahidin Afghan yang miskin dan bersenjata apa adanya. Bisakah pick up Toyota dan keledai mereka melintasi jalur daratan yang begitu panjang? Jalur klasik yang dahulu dilalui unta-unta kafilah dagang yang menyusuri Jalur Sutra. Jalur niaga yang menghubungkan Cina, Asia Tengah dan Timur Tengah.

Justru yang paling berat adalah meyakinkan atau mengalahkan negara-negara yang mereka lalui. Semuanya negeri Muslim, tetapi bukan sekutu Afghanistan dan Mujahidin. Bahkan para pemimpin negeri itu banyak bekerjasama dengan Amerika, Rusia dan Cina memusuhi kaum Muslimin.

Namun, kini Mujahidin Afghanistan di bawah pimpinan Taliban (dan Al-Qaidah) tengah menghitung hari menuju kemenangan. Mereka dapat dengan cepat bertransformasi menjadi kekuatan baru di kawasan Asia hingga Timur Tengah.

Pertama, Kabul dalam rengkuhan. Berikutnya, Iran yang melemah karena wabah Corona dan terkuras energi militernya di Yaman. Lalu Irak yang masih kacau, sebagian wilayahnya bahkan dikuasai elemen jihadi sekutu Al-Qaidah. Lalu Suriah yang masih dilanda perang, sebagian wilayahnya juga dikuasai faksi-faksi jihad sekutu Al-Qaidah.

Dalam situasi kacau akibat wabah dan lemahnya pertahanan wilayah hampir seluruh negri. Melintasi dan menaklukkannya dalam waktu tiga tahun tidaklah mustahil. Bukankah dulu pasukan Hulagu Khan yang berkuda bisa menaklukkan Baghdad dari negerinya dalam waktu setahun (1257-1258)?

Dari Suriah, lewat Dataran Tinggi Golan, Palestina yang kini diduduki Israel sudah di depan mata. Corona bahkan melemahkan pertahanan Israel saat ini. Angka penularan mencapai 10 ribuan dengan angka kematian mencapai ratusan.

Atau, inikah Jalur Sutra Jihad Akhir Zaman, melintasi Khurasan-Irak hingga Makkah di masa kemunculan Imam Mahdi kelak? Kalau pembebasan Al-Aqsha menunggu saat kepemimpinan Al-Mahdi tiba, bukankah bersama beliau ada sepasukan berbendera hitam yang akan muncul dari Khurasan (Afghanistan sebagai wilayah utama dan sebagian Iran, Uzbekistan, Tajikistan dan Turkmenistan hari ini) yang membaiat beliau?

Wallahu a’lam bish shawab. Tapi masa itu seolah telah menjelang di depan mata!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *