Lika Liku Mahbub Djunaidi ( Dari HMI ke PMII)

FOKUSATU-Kisah Cinta Mahbub Djunaidi

Layaknya aktivis PB HMI zaman now, alasan karena ada HMI-Wati yang dikagumi juga menjadi salah satu faktor fungsionaris PB zaman old untuk datang ke cabang. Baik karena mengisi malam inagurasi, forum pelatihan atau pun pelantikan. Begitu pula yang dialami oleh Mahbub .

Waktu itu, Mahbub menyukai HMI-Wati Cabang Bandung, Asni Asymawi namanya. Ia puteri dari salah seorang anggota konstituante, Buya Asymawi. Asni berasal dari Bukittinggi. Namun besar di Bandung dan sudah menetap di sana.

Karena Asni-lah Mahbub bersemangat dan rela datang ke Bandung lebih awal untuk menghadiri malam inagurasi HMI Cabang Bandung. Acara tersebut digelar pada tanggal 28 September 1959. Dan Mahbub datang ke Bandung pada tanggal 26 September. Tepat dua hari sebelumnya. Mahbub datang ditemani kawan karibnya, Hussein Badjerei. Malam inaugurasi saat itu dilaksanakan di Aula Direktorat Ajudan Jenderal jalan Bangka, Bandung.

Kedatangannya lebih dulu ini tentu mendapat candaan dan guyonan dari kawan-kawan PB HMI lainnya. Terutama dari awak redaksi majalah Media PB HMI edisi tahun VI No.2/3 Sept/Okt, 1959. Pada salah satu rubriknya tertulis seperti ini :

“Utusan PB ke Bandung untuk menghadiri malam inagurasi Cabang Bandung, sdr. Mahbub Djunaidi dan sdr. Hussein Badjerei, berangkat tanggal 26/9, padahal inagurasinya baru diadakan tanggal 28/9 malam. Aya saha di Bandung, Cep?”

Membaca guyonan ala Mang Usil di kolom pojok Kompas ini, tentu kita akan tersenyum. Belum lagi membaca guyonan lainnya yang dilontarkan awak redaksi pada baris selanjutnya. Tertulis di sana :

“Wakil PB untuk hadiri inagurasi cabang Bandung ada tiga orang. Mahbub Djunaidi, Hussein Badjerei, dan Murtadho Makmur. Tapi bangku yang digunakan ada lima. Siapa dua lagi? Tuan bisa tanya sama Mahbub Djunaidi – Ya to bub?”

Karena Asni pula, Mahbub rela mondar-mandir Jakarta-Bandung demi melakukan pendekatan pada Asni. Dalihnya macam-macam. Berdalih rapat PMII-lah, HMI-lah, NU-lah. Padahal intinya Mahbub hanya ingin ngapelin Asni.

Berbicara soal romantisme cinta, Mahbub tak kalah mesra dengan anak-anak muda milenial saat ini. Coba saja tengok surat wasiat Mahbub yang ditulisnya pada tahun 1960.

“Andaikata karena suatu hal aku tiada umur, kepada siapa saja yang menemukan surat ini, tolong sampaikan kepada adikku Asni Asymawie. Tolong sampaikan kepadanya bahwa cintaku abadi, dialah kehidupanku. Di atas nyawa dan cintaku itu aku berharap agar dia dapat mengenangkan aku selama mungkin,memaafkan segala dosaku, supaya dia belajar terus dan memilih orang yang jauh lebih baik dari diriku sendiri. Dia adalah sempurna bagiku, segala-galanya,”tulis Mahbub sebagaimana penuturan Isfandiari MD dalam BungMemoar Tentang Mahbub Djunaidi.

Penulis Dengan Gaya Jenaka

Mahbub sangat lihai memintal kata. Itu bisa dilihat dari seringnya tulisan Mahbub muncul di media massa. Genre, gaya dan pola penulisannya pun lebih mengena karena disampaikannya dengan cara yang jenaka. Saat ini, di zaman kiwari ini, jenis dan model tulisan ala Mahbub inilah yang paling banyak diminati oleh pembaca. Menggelitik. Sentil sana sini.

Terkait gaya menulisnya yang humoris dan satiris, Mahbub memang sengaja memilihnya. Dan itu diakuinya dalam  sebuh tulisannya, Dunia Sastra Bagi Saya, yang disampaikannya pada saat ceramah di Teater Arena, Taman Ismail Marzuki, Jakarta 8 April 1974.

“Saya memilih gaya humor, karena saya pikir orang perlu ketawa seperti halnya orang perlu cari angin. Apalagi mau mengkritik, lebih bijaksana membikin ia tersenyum daripada membikinnya bangkit dari kursi dan membelakkan matanya”

Coba saja menengok tulisan Mahbub dalam buku berjudul Humor Jurnalistik terbitan penerbit Ircisod. Dalam artikel berjudul ‘Itu Mah Pamali, Itu Mah Mustahil,”Kata Bu Inggit, Mahbub seakan-akan mengejek habis-habisan Rosihan Anwar. Ini bermula karena tulisan opini Rosihan Anwar di harian Kompas 15 September 1980.

Dalam tulisannya itu, Rosihan mengamini apa yang diutarakan oleh John Ingelson dalam buku The Indonesian Nationalist Movement 1927-1934 yang isinya menyebut bahwa Soekarno meminta ampun dengan cara mengirim surat kepada pemerintah Hindia Belanda.

Karuan saja Mahbub yang membaca tulisan Rosihan Anwar itu membuat tulisan tanggapan yang isinya nyelekit, satire, dan membikin pembaca ketawa serta tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah Rosihan saat membaca tulisan tanggapan dari Mahbub itu. Mahbub menulis :

“Saya terlongo-longo membaca artikel sohib baik saya Ustadz H.Rosihan Anwar, di Koran Kompas 15 September 1980, yang berjudul “Perbedaan Analisa Politik Antara Soekarno degan Hatta”. Begitu terlongo-longonya saya, sehingga kalau saja pada saat itu ada seekor harimau masuk kamar, tentu akan saya biarkan saja seolah-olah itu seekor kucing belaka” (Humor Jurnalistik, hlm.120)

Membaca paragraf pembuka dari tanggapan Mahbub itu, apa tanggapan pembaca? Nyelekit. Sarkas. Dan satire. Dan ini masih belum seberapa. Mahbub masih belum berhenti mengejek Rosihan Anwar. Ia malah menggebuk lagi lewat kalimat selanjutnya.

“Itu belum seberapa. Tulisan sahabat baik saya itu membuat saya dua hari lamanya tidak bisa membuang hajat besar. Pencernaan saya kacau balau dan anus saya kehilangan daya elastisnya”.

Andai anda Rosihan Anwar, apa yang anda rasakan saat membaca tulisan Mahbub yang terkesan mengejek itu? Mau marah, tak bisa. Karena disebut sebagai sahabat baik. Mau tak marah, tapi kalimatnya begitu. Di sinilah letak kejeniusan Mahbub dalam menulis. Ia mengkritik tanpa membuat yang dikritik itu marah dan membelalakkan mata.

Dari itu, Mahbub menekankan tentang adanya keterkaitan yang sangat erat dan intim antara kerja-kerja jurnalistik, politik dan sastra. Ketiganya tak bisa dipisahkan. Pemisahan salah satu di antaranya akan menyebabkan sebuah tulisan menjadi garing dan gahar. Menurut Mahbub, tidak perlu ada garis pemisah yang kelewat tajam, apalagi mempertentangkan antara ketiga komponen sastra – jurnalistik – politik.

Bahkan, tambah Mahbub, seorang wartawan yang menghayati sastra akan lebih baik ketimbang wartawan yang tidak. Seorang wartawan yang mengikuti perkembangan sosial politik, dan menuangkannya ke dalam hasil sastranya, akan lebih baik ketimbang sastrawan yang melulu memperhatikan angin atau daun-daun yang berguguran.

Mahbub menarik kesimpulan bahwa jurnalistik perlu sastra sebagai penunjangnya, bukan saja lewat penyedian ruang seni budaya, melainkan menghayati bahasa koran pada umumnya. Orang, tambah Mahbub, bukan saja perlu fakta, melainkan perlu indah. Wartawan juga tak sekadar perlu mengerti seni reporting, melainkan juga reporting yang artistik, walau yang ditulisnya perihal sidang Dewan Stabilisasi Ekonomi. Bakat menulis Mahbub inilah yang membuat Goenawan Mohamad dalam kata pengantarnya pada buku Kolom Demi Kolom : Humor-Humor Bernas Sang Maestro, menyatakan kecemburuannya pada Mahbub (red).

Sumber : Historiahmi.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *