FMD Mahasiswa Jakarta Gelar Diskusi Kebangsaan Secara Daring ” Kita Kuat Lawan Corona”

FOKUSATU-Dunia akhir-akhir sedang menghadapi wabah Virus Corona yang menjangkiti banyak korban dan sampai ada yang meninggal dunia. Di Indonesia sendiri Virus Corona sudah menyebar ke berbagai daerah hingga mengakibatkan kepanikan di tengah masyarakat, merespon kejadian tersebut Forum Majelis Diskusi Mahasiswa Jakarta menyelenggarakan diskusi Kebangsaan secara daring / online dengan Tema “Indonesia Kuat Lawan Corona”, Kamis, (16/04) sore.

Untuk memperdalam wacana dalam diskusi tersebut, panitia mengundang beberapa narasumber, diantaranya dr. Syahriza Syarif (Ketua PBNU Bid. Kesehatan), Kit Rose, (Jurnalis/Redaktur/Editor Klik Anggaran), Widya Rahmawati Al-Nur, (Akademisi Unusia Jakarta), dan Robby Hermawan (Mahasiswa Keperawatan Magang RSCM Jakarta).

Menurut dr. Syahriza, saat ini kita memasuki minggu ke-6 dari pelaporan kasus pandemic Virus Corona, dan semuanya mengetahui bahwa saat ini Indonesia mengalami peningkatan kasus yang cukup serius terutama di daerah pulau Jawa dan sekitarnya.

“Kita tahu dalam situasi dunia, virus ini awalnya mewabah di Wuhan, China, dan saat ini menyebar sudah keseluruh dunia. Saat ini Virus Corona ini kurang lebih telah menyebar di 210 negara diseluruh dunia, dan hari ini mewabah di Indonesia,” tutur dokter Syahriza.

Namun dalam situasi seperti ini, dari 210 negara yang terinfeksi Virus Corona kita dapat mengelompokkan kedalam 4 kelompok negara, yaitu kelompok negara yang masih mengalami situasi yang cukup berat, seperti Indonesia, Rusia, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab dan Singapura, Ini adalah kelompok negara-negara yang mengalami peningkatan angka kasus yang disebabkan oleh Virus Corona. Berita baiknya, ada sekitar 78% negara yang saat ini kasusnya mulai menurun, terkendali dan sebentar lagi bebas.

“Ada 13 negara di dunia ini yang 10% diantara negara-negara itu yang sampai saat ini memberikan tanda-tanda akan segera terbebas dari wabah, seperti China, Vietnam, New Zeland, Australia merupakan negara-negara yang mengalami penurunan kasus,” imbuh dokter Syahriza.

Menurutnya, dari data ini kita harus optimis bahwa Indonesia akan segera terbebas juga dari Virus Corona ini. Berbagai prediksi dilakukan tentang kapan wabah ini akan selesai dari negara kita.

“Menurut pandangan saya, untuk negara seperti Indonesia kita harus bersabar, mungkin kita harus menunggu sekitar 4-5 bulan lagi wabah ini akan selesai. memang waktu yang cukup lama namun ini gambaran yang kita pelajari dari 210 negara terinfeksi wabah Virus Corona,” ujarnya.

Hari ini kita juga harus percaya terhadap upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah agar penyebaran virus tidak semakin meluas, beberapa upaya yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi Virus Corona. Pemerintah harus membuat skema penanggulangan wabah Virus Corona dengan asumsi membagi wilayah menjadi menjadi 3 area.

Area pertama disebut hulu, bagian tengah dan bagian hilir. Saya mulai dari bagian hilir, prinsip dasar penanggulangan wabah Virus Corona adalah memisahkan antara orang yang sehat dengan orang yang sakit.

“Orang sakit ini menurut saya harus berada di tiga fasilitas, ODP (Orang Dalam Pantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) ini sebetulnya tidak boleh berada di rumah, saya sangat menyayangkan sebetulnya terhadap anjuran-anjuran bahwa ODP ini harus berada di dalam rumah, mengkarantina diri, saya kira tidak begitu. Belajar dari negara-negara yang berhasil melewati wabah Virus Corona, bahwa ODP, PDP sebaiknya berada di pusat karantina. Yang kedua adalah mereka-mereka yang sudah ada konfirmasi kasus yang ringan dan sedang itu sebaiknya berada dirumah sakit rujukan, seperti wisma atlit. Sebetulnya, rumah sakit rujukan itu hanya untuk merawat pasien yang terkonfirmasi dalam keadaan berat saja. Dengan cara seperti ini, pembagian tiga fasilitas, kita tidak akan mengalami kesulitan dalam penanganan kasus Virus Corona,” jelas Dokter Syahriza.

Yang kedua di hulu. Kita tau ini kelompok orang sehat, seperti di Desa, RT dan RW harus membentuk dengan apa yang disebut dengan desa siaga Virus Corona. Intinya bukan memagari kampung, namun bagaimana relawan-relawan yang ada di desa bisa mendampingi warganya agar tetap dirumah, mendampingi warganya yang sakit agar segera mendapat rujukan.

“Di hulu ini intinya mengawasi warganya siapa yang memiliki suhu tubuh yang tinggi yaitu mencapai 37,5 derajat celcius agar segera di pisahkan terlebih dahulu karena ini merupakan gejala awal Virus Corona,” imbuhnya.

Yang di tengah, yaitu seperti yang dianjurkan oleh pemerintah yang disebut dengan pembatasan sosial bersekala besar (PSBB) nah ini harus dipatuhi. Intinya sebenarnya adalah bagaimana mencegah orang bergerak, jika terpaksa bergerak maka harus mematuhi protokol kesehatan, seperti penggunaan masker dan tentu saja tidak boleh berinteraksi sosial.

“Ini jika kita lakukan dengan baik dari hulu hingga hilir, orang-orang yang sehat hingga beresiko sakit, ditengah kita patuh (edukatif) dan tegas dalam penyelenggaraan PSBB, maka insyaAlloh kita akan lebih cepat dalam melewati wabah Virus Corona di Indonesia.” tutup Dokter Syahriza.

Narasumber kedua, Kit Rose, mengajak masyarakat untuk berfikir positif dalam menghadapi wabah Virus Corona yang menyebar di seluruh Indonesia, walaupun situasi ini memang berat, namun kita harus bangkit dan memetik nilai positif dari penyebaran virus ini, terutama dari diri sendiri terlebih dahulu, saling menyemangati dan menebarkan kebahagiaan meskipun dengan keadaan seperti ini.

“Kesulitan ini bukan hanya dialami oleh satu sektor masyarakat, namun ini adalah bencana yang kita hadapi bersama, semua lapisan masyarakat merasakan dampak dari penyebaran Virus Corona. Banyak warung mulai diminta untuk tutup, mulai ada larangan makan di tempat, tukang ojek sudah dilarang untuk sementara waktu, pasar mulai sepi dan masih banyak lagi. Disisi lain, temen-temen kita yang kerja kantoran mungkin sebagian ada yang masih harus pergi ke kantor, ini pasti juga menjadi tekanan tersendiri baginya, oleh karena itu kita harus saling mendukung dan menyemangati,” ungkapnya.

Dampak dari virus ini kita disarankankan untuk selalu dirumah, walaupun himbauan itu berat, namun hal tersebut jangan hanya dipandang dari sisi negatifnya saja, jangan hanya di pandang dari bosannya atau betenya saja namun kita juga harus memulai memandang hal positif darinya.

“Kita jadi punya banyak waktu untuk belajar lebih mengenal keluarga, mengenal kelebihan/kekurangan anak kita, kelebihan/kekurangan istri/suami kita, semakin punya banyak waktu untuk quality time bersama keluarga. Jadi kita juga harus manfaatkan waktu ini dengan kegiatan-kegiatan posotif bersama keluarga inti kita,” imbuh Kit Rose.
.
Dengan waktu dirumah aja ini kita juga dapat gunakan untuk mengasah kemampuan diri, seperti menciptakan iklim kerja dirumah, memasak, menjahit, berjualan dirumah dan sebagainya. Sehingga diharapkan dengan begini sebagai orang tua tentunya tetap memili waktu bersama anaknya dan dapat memantaunya.

“Maka dari itu, kita ciptakan hal positif dari keadaan yang negative ini. Mari kita gali hal-hal positif dari dalam diri kita,” tegas Kit Rose.

Naraumber ketiga, Widya Rahmawati Al-Nur, mengungkapkan kalau berbicara soal Virus Corona, kita tahu bersama bahwa virus ini sangat merugikan dan memberikan dampak negative kesemua kalangan masyarakat. Kita juga dapat melihat berbagai berita yang membicarakan betapa memprihatinkannya kehidupan masyarakat akibat adanya Virus Corona ini.

“Secara pribadi saya, dari ranah akademisi juga merasakan kesulitan dalam proses belajar mengajar, dapat diartikan virus ini membawa banyak masalah dalam hal pembelajaran dimana semula kita dapat bertatap muka akhirnya kita sekarang kita tidak dapat bertatap muka sama sekali karena diharuskan untuk belajar dirumah yang pada akhirnya mahasiswa tidak dapat menyerap pembelajaran secara maksimal dikarenakan akses internet yang berbeda-beda,” ujar dosen lulusan IAIN Purwokerto ini.

Diapun menghimbau kepada teman-teman dan masyarakat yang menunjukkan gejala terjangkit Virus Corona ini diharapkan segera melakukan isolasi mandiri selama 14 hari di dalam rumah masing-masing, apabila gejala ini tetap ada setelah 14, maka diharapkan segera melapor ke relawan/petugas kesehatan untuk dirujuk ke rumah sakit rujukan Virus Corona. Dan yang sehat untuk selalu jaga kesehatan dan imunitas tubuh.

“Saya mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap semangat, menjaga kesehatan, stay at home sebagai bentuk upaya memutus matarantai penyeberan Virus Corona. Penyebaran Virus Corona dapat diminimalisir dengan menjaga kontak fisik dengan orang lain (Pysical Distancing), menjaga pola hidup sehat, membiasakan cuci tangan dan penggunaan masker. Ingat virus ini dapat menyebar melalui kebiasaan hidup yang tidak sehat dan kurang menjaga kebersihan. Untuk itu, kita harus membiasakan pola hidup sehat mengonsumsi makanan bergizi agar meningkatkan imun tubuh kita dalam mengahadapi virus ini,” imbuhnya.

Sikap kita terhadap orang-orang yang terindikasi atau terinfeksi oleh virus ini yaitu jangan menutup diri terhadap orang-orang yang terkena virus ini. Mereka tidak boleh kita kucilkan, harus selalu kita dorong dan semangatin untuk sembuh dari virus ini.

“Saya mewakili akademisi Jakarta mengajak Masyarakat melawan Corona dengan mematuhi aturan pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran Virus Corona.” Tegas Widya.

Robby Hermawan, yang menjadi narasumber terakhir menjelaskan bahwa Virus Corona merupakan kumpulan virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Inveksi pernapasan ringan hingga infeksi pernapasan berat. Penularan virus ini berasal dari manusia ke manusia, maupun dari hewan ke manusia. Virus Corona ini tergolong Keluarga virus yang sangat besar.

“Kenapa masyarakat rentan tertular virus ini karena Virus Corona ini tergolong virus baru dan masyarakat belum ada kekebalan tubuh serta belum ada vaksin yang ditemukan untuk mengobati virus ini,” ungkap Robby.

Menurutnya, tanda-tanda seseorang terjangkit virus ini antara lain menderita demam 38 derajat, batuk, pilek, letih lesu, dan sesak napas. Pencegahan yang dianjurkan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini yaitu diam dirumah aja, rajin cuci tangan dan jangan panik.

“Karena kepanikan dapat menyebabkan naiknya tingkat stress tubuh dan menurunkan daya kekebalan tubuh,” imbuhnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *