Firdaus Turmudzi,M.Hum : Corona Phobia

FOKUSATU-Saat mengadakan aksi sosial berupa pembagian Masker dan penyemprotan disinfektaan untuk atasi penyebaran wabah corona, kami banyak menemui warga yang terlihat pucat pasi ketika saat di tanya bu maaf rumahnya mau di semprot nggak..? sambil menutup wajahnya dan mengendong anaknya yang ditutupi kain dan berkata, silahkan pak sambil keluar dari pintu rumahnya.

Selesai penyemprotan kami tanya kenapa bu..? ada masalah..? ia menjawab saya takut sekali jika dengar CORONA,Inilah potret buram pada masyarakat kita. Hal itu terjadi karena corona telah menghegomoni atau menguasi diri kita, gerak lingkup kita telah di dominasi olehnya. Itulah fakta yang terjadi di masyarakat karena hari hari kita lalui dengan berita corona baik dari penglihatan yang dilihat maupun pendengaran yang kita dengar dari semua media.

Bahkan banyak beredar pesan singkat dari aparat ataupun para dokter medis yang bekerja di puskesmas atau RSUD (rumah sakit umum daerah) untuk menghindari berobat di sana karena banyak yang masuk kategori ZONA MERAH, jika sakit berobatlah di klinik biasa atau beli obat warung.

COVID-19 merupakan virus corona jenis baru dengan penyebaran yang masif, dan perilaku virusnya masih belum diketahui secara detail, khususnya oleh tim dokter dan tenaga medis. Sehingga, saat pemeriksaan belum mendalam, tim medis sudah mengirimkan sampel untuk segera dites COVID-19
Seiring dengan merebaknya virus corona jenis baru atau COVID-19, di masyarakat mulai muncul fenomena baru yaitu Corona Phobia, atau rasa ketakutan yang berlebihan terhadap penyebaran virus corona.
Problem utama corona phobia di masyarakat bukan hanya terjadi di rumah atau kantor, bahkan di tempat Ibadah (masjid atau musholla) dan majelis taklim pun kita menjadi phobia (rasa ketakuatan atau kepanikan yang berlebihan).

Bukankah masjid menjadi tempat perlindungan yang paling aman dari segala wabah penyakit ..?

Sebagaimana dalam hadist qudsi Nabi Muhammad Saw bersabda ” innii laahummu bi ahlil ardhi azhaban. faidza nadhortu ilaa umarii buyuutii wal mutahaabiina fiiya wal mustaqfiriina fil ashaar shoroftu adzabii an hum ”
Yang artinya : “sesungguhnya Allah akan memberi azab atau bala dan bencana kepada penduduk dunia, namun ketika Aku melihat ada orang orang yang meramaikan atau memakmurkan runah Ku (masjid ), dan orang-orang yang berkumpul menciptakan persaudaraan karena Ku, dan orang orang yang banyak membaca beristiqfar di waktu pagi hari, saya tidak jadi mengirim bala bencana dan musibah kepada mereka”. (HR baihaqi)

Jadi rasa takut atau panik atau gelisah yang berlebihan (phobia) itulah menjadi sebab utama datangnya penyakit pada diri manusia menjadi Stress atau gila.

Ada suatu cerita menarik dari seorang Waliyullah yang mukasyafah. Mukasyafah itu sesuatu kelebihan yang di berikan Allah kepada hambanya yang sholeh bisa melihat sesuatu yang tidak umum bisa kita lihat, bisa bicara kepada sesuatu yang secara umum tidak bisa kita bicara.

Suatu hari melihat rombongan wabah penyakit yang sedang berjalan atau kalau sekarang kita sebut wabah virus, Lalu di tanya, hai rombongan virus mau kemana kamu ..? oh.. kami mau ke Damaskus jawab rombongan virus itu. Ada tugas apa ..? kami di tugasi Allah SWT untuk memberikan ujian kepada masyarakat di sana, lalu berapa lama rencana di sana ? yaa sekitar 2 bulan, lalu korbannya nanti berapa ? rencana 1000 (seribu orang yang mati).

Dan betul setelah itu terjadilah wabah virus penyakit di sana di wilayah damaskus.
Setelah 2 bulan Wali itu bertemu kembali dengan Rombongan wabah virus. Lalu di tanya bagaimana tugas mu apa sudah selesai ? rombongan virus itu menjawab, ya sudah selesai tugas kami dan rencananya kami akan pulang. Oh.. sambil menganggukan kepala sang wali Kembali bertanya berapa jumlah korbannya ? Korbannya semua sebanyak 50.000 lima puluh ribu orang, waduh… kok banyak sekali.? iya yang mati itu karena wabah penyakit itu sekitar seribu orang. sisanya itu karena Ketakutan, kepanikan, kegelisahan yang berlebihan dalam menyikapi wabah tersebut. mereka hanya mendengar dan membaca berita yang tidak benar, melihat banyak yang mati karena wabah penyakit, dan akhirnya mereka ikut mati.

Dalam kaitan ini persis apa yang disampaikan oleh Ibnu Sina seorang filsuf muslim , ilmuan sekaligus seorang dokter (at Tibb) kelahiran Persia menganjarkan 3 hal dalam menjaga diri agar tetap sehat jasmani rohani atau segera sembuh dari sakit sebagaimana dikutip oleh Musthofa Husni dalam kitabnya berjudul Isy Allahzah (Athlas lin Nashri wal Intaji wal Ilamiy , 2015, Cet.I, hal. 161) sebagai berikut:

1. الوهم نصف الداء (Kegelisahan atau Kepanikan adalah separuh penyakit)
Di saat krisis seperti ini karena adanya ancaman pandemi Covid 19 yang mewabah di negeri kita, sikap menjaga diri agar tidak terlalu panik perlu dilakukan dengan pendekatan teologis (keyakinan agama) kerena Kebenaran yang dibawa oleh Agama itu bersifat Mutlak.
Agama menjelaskan bahwa persoalan Rizki, jodoh dan ajal {kematian} manusia telah ditetapkan oleh Allah Swt pada saat di alam Rahim ibu kita . Hal ini harus menjadi keyakinan setiap Muslim sehingga betapapun dahsyatnya ancaman covid 19 tidak akan mengancam nyawa seseorang jika memang Allah belum saatnya.
2. والاطمئنان نصف الدواء (Ketenangan adalah separuh obat)
Menurut Ibnu Sina sikap tenang seseorang dalam menghadapi sesuatu bala atau musibah yang menimpanya merupakan separuh Obat.

Dalam keadaan sehat orang yang memiliki ketenangan jiwa tidak mudah terserang oleh berbagai-penyakit jasmani dan rohani sebab ketenangan itu sendiri merupakan benteng sehingga memiliki imunitas yang kuat.

Al-Quran mengingatkan pentingnya berdzikir kepada Allah sebab senantiasa mengingat Allah akan menghasilkan ketenangan batin sebagaimana firman Allah berikut ini: أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ Artinya: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang. (QS Ar-Ra’d: 28)
3. والصبر أول خطوات الشفاء (Kesabaran adalah awal dari kesembuhan).

Kesabaran itu ibarat jamu yang rasanya pahit tetapi hasil dari kesabaran adalah manis. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam pepatah Arab yang berbunyi: الصبر كالدواء المر مذاقه سيء ولكن نتائجه جميلة Artinya: “Sabar itu seperti obat pahit yang tidak enak rasanya, tetapi hasilnya indah.” Atau ‘alaa minal asali lebih manis daripada Madu
Penderita fhobia masih memiliki kemungkinan untuk mengalami jenis gangguan kecemasan dan menimbulkan penyakit yang lainnya.

Ada 2 ciri orang yang mengidap fhobia yaitu:
1. Mengalami perasaan takut, cemas, dan panik saat terpapar pada sumber fhobia. Bahkan hanya dengan memikirkan sumber fhobia saja sudah membuatnya takut dan tubuh mengalami reaksi dan sensasi fisik, contohnya berkeringat, detak jantung menjadi cepat, atau merasa sulit untuk bernafas
2. Penderita fhobia sebenarnya sadar bahwa ketakutan yang dialaminya tersebut tidak masuk akal dan terkesan dilebih-lebihkan, namun ia merasa tidak berdaya untuk melawan atau mengontrol rasa takut tersebut.

Oleh sebab itu Ikhtiar dan Doa harus kita lakukan agar terhindar dari wabah corona menimpa kita semua, dan bertawakkal kepada Allah Swt serta yakinlah dengan firman Allah yang berbunyi Katakanlah (hai Muhammad) sekali-kali Aku tidak akan memberikan bencana, melainkan apa yang telah aku tetapkan
(tertulis di lauhul mahfuz) Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakkalah orang-orang yang beriman (QS. At Tawbah 51)

Jakarta 12 april 2020

Penulis :
Firdaus Turmudzi, M.Hum
-Pendakwah , Dosen
-Aktivis Sosial
-Kandidat Dr Pasca Sarjana Dakwah UIA
-Sekretaris FAHMI TAMAMI MPW DKI Jakarta
-FKDM DKI Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *