Firdaus Turmudzi,M.Hum : Corona Dan Keyakinan Akan Takdir Allah SWT

FOKUSATU-Tahun 2020 dikenal dengan tahun duka cita / tahun kesedihan di mana Allah menurunkan musibah kepada penduduk dunia, hal itu menjadi catatan dalam sejarah, mewabahnya virus corona yang berasal dari negara yang terpadat di dunia yaitu di kota wuhan di china. Dan virus itu menyebar hampir keseluruh penduduk dunia. Hingga negeri china di asingkan dan terputus hubungan dengan negara-negara lain di dunia. 

Dalam sejarah hampir setiap 100 tahun sekali wabah atau musibah melanda dunia.
Pada tahun 1720 terpapar wabah tha’un di prancis, setaus tahun kemudian 1820 terjadi wabah kolera menyerang thailan, pilipina dan Indonesia bahkan memakan korban 100 ribu orang. Seratus tahun kemudian pada tahun 1920 wabah jahat influenza menyebar di dunia dari spanyol. Dan menjadi bencana kemanusiaan yang juga memakan banyak korban dan sukar untuk di hentikan.

Dan seratus tahun kemudian tepatnya tahun 2020 atau hari ini dan kita mengalaminya Dunia hidup dengan mimpi buruk corona yang membawa efek berkelanjutan.
Jadi wabah penyakit menyerang dunia setiap abad di setiap tahun ke 20, pada tahun 1720,1820,1920 dan 2020 menjadikan angka 20 di setiap abad membawa bencana virus.

Corona
Mewabahnya virus corona atau covid 19 di dunia banyak membuka cakrawala manusia. Musibah itu di turunkan Allah SWT, banyak membawa faedah diantaranya memberikan kecerdasan kepada manusia dan menabah sebuah keyakinan orang-orang beragama.
Kecerdasan bagi manusia itu dengan banyaknya peneliti-peneliti dan para ilmuan yang bermunculan dari berbagai bidang apakah itu kedokteran, psikologi, sosiologi astronomi dan lainnya yang kesemuanya mempunyai tinjauan akademis dan ilmiyah dalam memutus wabah virus corona.

Sedangkan yang menambah keimanan atau keyakinan pada agama dengan munculnya bahsul masail atau pembahasan masalah yang dikaji oleh para ulama dengan mengedepankan Al quran dan al hadist sebagai sumber hukum dan hasil dari sebuah ijtihad yang juga menjadi landasan hukum dalam menetapkan hukum dengan mengunakan qo’idah fiqih dan ushul fiqih “da”ul mafasid muqoddamu “alaa jalbil masholih” {menghindari tidakan merusak atau berbahaya harus lebih di utamakan ketimbang menarik sebuah kemaslahatan. Atau dengan kaidah “ yahtamilu dhoruuroh khossun lidaf’I dhoruroh “aamun. {mengutamakan bahaya yang bersifat khusus daripada bahaya yang bersifat umum.

Pandemi covid 19 di negara kita Indonesia yang amat sangat luar biasa sehinnga keluarnya peraturan pemerintah no 21 tahun 2020 tentang PSBB (Pembatasan sosial Bersekala Besar) bertujuan untuk memutus penyebaran virus corona berdasarkan dari hasil kajian dan penelitan ilmiyahi dari para ilmuan dengan mengedepankan hidup bersih, membatasi kerumunan masa dan menjaga jarak antar sesama manusia. Bahkan masuk didalamnya larangan melaksanakan sholat berjamaah di masjid atau musholla dan mengadaakan pengajian majelis taklim.
dari keterangan di atas dan keadaan sosial masyarakat yang kita alami dalam menghadapi pandemic covid 19 ini menjadi pengalaman yang sangat berharga karena kita mendapatkan pengetahuan ilmiyah dan dapat menambah keyakinan dalam agama.

Sebagai orang beragama kita menyakini bahwa pada apapun bentuk musibah yang terjadi di dunia tidak akan di datangkan tanpa suatu alasan.

Ada 3 bentuk musibah yang Allah berikan kepada Manusia

1. Sebagai cobaan atau ujian. 2.Karena perusakan di bumi yang dilakukan, 3. Azab atau hukuman. 

Ketiga bentuk musibah inilah yang harus kita muhasabah diri dalam menghadapinya. Dan yakinlah di dalam alqur’an surat al Baqarah ayat 286 “ Allah SWT tidak akan membebani seseorang melaikan sesuai dengan kesangupannya, ……”
Dan dalam surat attawbah Allah berfirman “ Katakanlah {hai Muhammad} musibah itu tidak akan menimpah kami melainkan apa yang telah di tetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah bertawakkal orang-orang beriman”. (Qs. Attawbah 51).

Menyakini isi al qur’an itu merupakan ajaran agama menjaga kesehatan yang di saratkan pemerintah juga bagian dari ajaran agama. Oleh sebab itu harus ada yang kita Ikhtiar yang kita dengan menjaga kebersihan, menjaga jarak dengan sesama atau social distancing, mengkonsumsi makanan yang halalan thoyyibah ( bermanfaat buat kesehatan) harus kita lakukan serta banyak berdo’a supaya terhindar dari musibah .

Namun jika ada musibah yang mengenai diri kita, maka kita harus menyakini bahwa itu memang telah Allah tetapkan untuk kita dan itu bagian dari ke imanan kita mempercayai qodho dan qodar khairihi wa sarrihi yang Allah berikan. Hal itulah yang menambah keyakinan kita sebagai seorang muslim.
Bahkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh baihaqi.

Nabi Muhammad Saw bersabda, sesungguhnya aku ingin mengazab penduduk dunia, akan tetapi ketika aku melihat mereka berbondong-bodong kerumah Ku (memakmurkan masjid) dan saling kasih sayang kepada sesama saudaranya karena Aku, dan beristiqfar (memohon ampunan) di pagi hari, maka Aku batalkan adzab Ku untuk mereka”.

Hadist ini juga menambah keyakinan pada kita sebagai seorang muslim bahwa tempat terbaik dalam menghindari adzab dari Allah adalah dengan memakmurkan masjid {baitullah} tentunya juga ini harus di jalankan dengan yang di syareatkan oleh pemerintah dengan ber ikhtirkan menjaga kebersihan diri, dengan berwudhu yang benar dari rumah, membawa sajadah sendiri, memakai masker dan lain sebagainya.

Dalam syareat kesehatan dengan seringnya mencuci tangan maka akan tegerus mati virus corona yang ada di tangan kita. Islam mengajarkan dengan berwudhu akan terpelihara kesehatan kita, jika cuci tangan saja bisa menghambat penyebaran virus apalagi berwudhu yang di ajarkan agama Islam lebih sempurna dalam menjaga kebersihan.(*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *