Abdul Majid,S.Fil.I : Keharusan “Berpolitik”

FOKUSATU-Politik merupakan ihwal hidup kite sebagai warga bangsa, sebagai warga negara. Selama kite menjadi bagian dari bangsa dan Negara, selama itu pula politik akan mempengaruhi hidup kite, langsung maupun tidak langsung, mau tidak mau, suka atau tidak suka, politik selalu hadir dalam kehidupan kite dalam berbagai cara. Keterlibatan kite dalam politik jelas merupakan perkara penting.

Menurut Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin, semua hal yang menyangkut kepentingan orang banyak adalah fardlu Kifayah, seperti teknologi, tekstil, pertanian, kedokteran, matematika dan politik (siyasah). Dalam fiqih, fardlu kifayah adalah suatu kewajiban umat secara kolektif. Artinya, jika ada salah satu umat atau golongan telah melaksanakan kewajiban itu, maka gugurlah kewajiban bagi umat atau golongan lain. Tetapi bila tidak ada satupun umat yang melakukannya. Maka seluruh umat disuatu kawasan berdosa semua.
Imam Syafi’i memiliki pandangan yang lebih tegas. Siyasah menurut beliau; Juz un min ajzai al-syari’ah wa far un min furu’iha (politik itu salah satu bagian dari bagian-bagiannya syariat dan salah satu cabang dari cabang-cabangnya syariat). Jadi politik itu jatuhnya wajib bagi tiap-tiap individu. Fardlu ain sifatnya. Jika tidak melakukan, secara fiqih “berdosa”.

Perspektif demikian semestinya menjadi dasar untuk melihat urgensi atau sisi kemaslahatan dalam berpolitik. Opini publik yang sementara ini menganggap politik itu kotor bahkan propaganda anti-politik dari berbagai elemen masyarakat dan juga media massa, semua itu lahir dari pemikiran yang ahistoris dan bertentangan dengan tradisi politik serta peradaban Islam. Pemikiran tesebut adalah pemikiran barat yang menganggap politik itu urusan dunia dan kekuasaan belaka.

Bagi umat Islam, terlebih warga Nahdlotul Ulama, politik adalah suatu kewajiban yang perlu dipenuhi. Dikatakan demikian karena politik sangat menentukan kelangsungan aqidah dan ajaran Islam secara keseluruhan. Politik pada dasarnya merupakan usaha-usaha perbaikan manusia menuju jalan yang lurus dan menyelamatkan kehidupan kite didunia dan akhirat “Assiyasatu hiya istislakhu an-naas ila thoriqi al-mustaqimi al-munji dunyan wa wa ukhron”. Dengan pengertian seperti ini, politik sangat terkait dengan iman dan aqidah yg bisa membuat manusia selamat atau bahagia didunia dan akhirat.

Tanpa politik, kelangsungan hidup aqidah Ahlussunnah wal Jamaah bisa berada dalam bahaya tatkala kekuasaan politik dipegang oleh mereka yang memusuhinya.

Melalui politik Ahlu Sunnah Wal Jamaah dapat terus dipelihara, dilestarikan dan dikembangkan dalam masyarakat. Pada saat yg sama, apa yang disebut sebagai kebaikan bersama atau kemaslahatan umat itu juga dapat diwujudkan melalui politik. Itulah kenapa sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw, para sahabat dan tabiin dalam menegakkan bendera Islam amar ma’ruf nah munkar senantiasa tidak terlepas dari berpolitik..
Sedemikian pentingnya berpolitik dan kekuasaan sebagai sarana memelihara aqidah serta mewujudkan kemaslahatan umat, maka para ulama menegaskan bahwa politik umat harus pararel dengan aqidahnya ” siayasatul ummah wabniyatun’alaa ‘aqidatiha: politik ummat itu dibangun diatas dasar aqidahnya”. Apabila aqidahnya wahabiyah, maka politiknya juga wahabiyah demikian pula apabila aqidahnya Ahlu Sunnah Wal Jamaah, maka oreintasi politiknya juga Ahlu Sunnah Wal Jamaah…..

Demikian bunga rampai selayang pandang dalam berpolitik….

Mari srupuuut kopinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *