Ada Emosi Di Balik Kanker

FOKUSATU-Harian Kompas pagi ini (3/2) memberitakan penyakit kanker kian menjadi ancaman. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kematian akibat kanker meningkat dari 7,6 juta orang pada tahun 2008 menjadi 9,5 juta orang pada 2018. Di Asia Tenggara khususnya, tahun 2018 Indonesia menempati urutan pertama jumlah pengidap baru, yaitu 348.809 orang yang tercatat. Mereka kebanyakan mengidap kanker payudara, serviks, paru-paru, hati dan nasofaring.

Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) prevalensi kanker meningkat dari 1,4 per 1000 penduduk pada tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada 2018. Provinsi dengan prevalensi kanker tertinggi adalah DI Yogyakarta, Sumatera Barat, Gorontalo, DKI Jakarta, dan Bali.

Angka kesakitan yang tinggi merupakan biaya yang sangat besar bagi keluarga maupun Negara. Banyak orang sampai menjual rumah untuk biaya berobat, akhirnya meninggal juga. Tercatat pada umumnya pasien diketahui mengidap kanker setelah stadium tiga atau empat. Secara medis harapan kesembuhan akan lebih tinggi bila kanker terdeteksi sejak dini.

MINDBODY CONNECTION
Hingga saat ini dunia medis belum menemukan apa penyebab kanker, kecuali kanker serviks. Yang dapat diperingatkan kepada khalayak hanyalah faktor-faktor risiko seperti rokok, zat karsinogen, radiasi, genetik, dan gaya hidup.

Pada kenyataannya banyak sekali orang yang merokok atau terpapar rokok, mengonsumsi aneka jenis makanan yang mengandung zat karsinogen (lemak trans, kimia pengawet/pewarna/perisa pangan), gaya hidupnya amburadul (kurang tidur, minum minuman beralkohol, makanan tidak cukup gizi, stres tinggi, tidak berolahraga) dan memiliki faktor genetik; tetapi mereka tidak mengidap kanker.

Sebaliknya banyak orang yang menjaga kesehatannya relatif baik justru mengidap kanker. Mereka sudah vegetarian atau memperhatikan kualitas asupan makanan, rajin olahraga, rutin meditasi, tubuhnya langsing, tidur teratur, tidak merokok dan menghindari paparan asap rokok, tidak mengonsumsi minuman beralkohol; tetapi terkena kanker juga.

Sama-sama menjaga kesehatan dengan baik dan memiliki riwayat keluarga dengan kanker. Mengapa anak yang satu mengidap kanker sedangkan anak-anak yang lain tidak? Bahkan anak yang kurang menjaga kesehatan malah tidak mengalami kanker? Kasus-kasus semacam ini sering dijumpai.

Apakah karena takdir Tuhan atau nasib? Sebaiknya jangan menjadikan Tuhan sebagai tertuduh. Ada faktor yang nyaris tidak pernah diperhitungkan tetapi perannya vital dalam kesehatan, yaitu pikiran dan perasaan/emosi. Terdapat kaitan yang signifikan antara pikiran dan emosi dengan tubuh fisik.

Tubuh manusia yang berlapis-lapis itu merupakan suatu sistem. Antara satu lapisan dengan lapisan tubuh saling terkait. Ada tubuh fisik, tubuh emosi, tubuh mental, tubuh astral, tubuh eterik, dan tubuh spiritual. Masalah pada satu lapisan tubuh dapat mempengaruhi lapisan tubuh yang lain. Kebanyakan orang hanya fokus memperhatikan lapisan tubuh fisik, abai terhadap lapisan-lapisan tubuh lainnya.

PIKIRAN MENJADI PANGLIMA
Dalam dunia teknologi pikiran, hipnoterapis klinis dengan pendekatan ilmiah mengenal pola pikiran dan emosi tertentu yang berdampak terhadap tubuh fisik tertentu. Misalnya, bila klien mengidap kanker payudara, dia akan ditanya yang terkena payudara kanan atau kiri. Pada umumnya emosi/pikiran terkait masalah tertentu akan bermanifestasi pada payudara tertentu. Demikian juga mereka yang mengidap kanker hati atau nasofaring atau rahim atau serviks terdapat pola yang kurang lebih sama, terkait pikiran/emosi tertentu.

Program pikiran dan emosi/perasaan yang tersimpan di pikiran bawah sadar memiliki kekuatan 9 kali lipat dibanding program di pikiran sadar. Sebagai contoh, ada orang yang bawah sadarnya berpikir ibu mertuanya sangat jahat dan tidak adil terhadapnya, sehingga tersimpan perasaan marah dan kebencian luar biasa. Meskipun si ibu mertua sudah belasan tahun meninggal, dan klien ini mengira sudah terbebas dari ibu mertua, nyatanya program pikiran sadar tidak selalu sama dengan isi pikiran bawah sadar. Dia masih amat sangat marah dan benci ibu mertua. Manifestasi dari isi pikiran dan emosi di bawah sadar terhadap ibu mertua itu adalah kanker di payudara tertentu.

Mengingat power pikiran bawah sadar yang begitu besar, maka pengidap kanker hendaknya tidak hanya fokus mengatasi masalah secara fisik. Ingat bahwa tubuh manusia merupakan suatu sistem, tidak cukup bila hanya menggunakan single treatment (metode penyembuhan tunggal) untuk mengatasi kanker. Lakukan pendekatan secara integratif, supaya proses penyembuhan lebih cepat dan kesehatan diperoleh kembali dengan baik. Salah satu yang penting untuk dilakukan adalah menemukan akar masalah di pikiran bawah sadar.

Kesehatan memang bukan segala-galanya, tapi segalanya tidak berarti tanpa kesehatan.

Penulis : Widya Saraswati (hipnoterapis klinis)

••

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *