Mozaik : Inilah Cara Berhubungan Suami Istri Yang Benar

WARTAHOT – Hubungan suami istri merupakan hak kedua belah pihak. Selama ini, ada anggapan yang beredar bahwa hubungan ini hanya lebih banyak dinikmati oleh suami saja.

Maklum, pihak istri lebih banyak ditutupi rasa risih dan juga malu, sekalipun pada suami yang telah bertahun-tahun hidup bersama. Berbeda dengan suami, istri memerlukan proses lebih lama. Salah satu hal terpenting adalah soal pemanasan yang harus dilakukan oleh suami.

Dari beberapa hadis sahih yang dituturkan oleh Rasul Muhammad SAW, ada beberapa yang harus diperhatikan oleh suami soal pendahuluan ini. Berikut di antaranya:

1. Kata-kata mesra

“Janganlah salah seorang dari kalian menjima istrinya seperti binatang ternak mendatangi pasangannya. Tetapi hendaklah ada ar rasuul antara keduanya.”

Ditanyakan kepada beliau, “Apakah ar rasuul itu wahai Rasulullah? “Beliau menjawab, “Ciuman dan kalimat-kalimat obrolan (mesra),” (HR. Ad Dailami).

Sebelum melakukan jima, dahuluilah dengan kata-kata romantis atau kiata-kata yang mesra. Rasulullah, di hari-hari biasa saja memanggil Aisyah dengan Humaira, yang artinya pipinya kemerahan. Betapa beliau sangat romantis, kan?

Kata-kata romantis dan mesra ini yang pertama akan mencairkan suasana dan membuat rileks.

2. Kecupan

“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu,” (HR. Tirmidzi).

3. Sentuhan

Jika kata-kata mesra adalah pendahuluan dengan ucapan dan kecupan adalah pendahuluan yang agak meningkat, maka pendahuluan yang lainnya adalah dengan sentuhan.

Imam Abu Hanifah ditanya oleh muridnya tentang suami yang memegang kemaluan istrinya atau istri memegang kemaluan suaminya (sebagai pendahuluan jima), beliau menjawab, “Tidak masalah, bahkan saya berharap ini akan memperbesar pahalanya,” (Tabyin al-Haqaiq). Allahu alam bishawwab. []

[5] Rasyiduddin Mabidi, Ahmad in Abi Sad, Kasyf al-Asrr wa Uddat al-Abrr, Riset: Hikmat, Ali Asghar, jil. 1, hal. 69, Tehran, Amir Kabir, cet. 5, 1371 S.

[6] Ibnu Hayun, Numan bin Muhammad Maghribi, Daim al-Islm, Riset: Faidzi Asaf, jil. 2, hal. 530, Qum, Muasasah Ali al-Bayt As, cet. 2, 1385 H.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *