Media Online Tak Perlu Barcode, Untuk Legalitas

WARTAHOT – Rencana Dewan Pers dan Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan verifikasi media online di tengah maraknya penyebaran berita-berita berkonten hoax dengan memberikan barcode, dinilai tidak perlu dilakukan.

“Sesungguhnya Dewan Pers sudah punya mekanisme sendiri, sudah punya ukuran sendiri,” ujar seorang wartawan Kristian Ginting dalam diskusi bertajuk “Barcode Media, Bredel Gaya Baru?” di Gedung YLBHI, hari ini.

Barcode terhadap media online rencananya akan diberikan mulai 9 Februari 2017 bertepatan dengan penyelenggaraan Hari Pers Nasional (HPN) di Ambon. Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo menjelaskan dengan adanya barcode, berarti media itu terverifikasi dan terpercaya, sehingga dapat meminimalisasi pemberitaan hoax.

Menurut Kristian, barcode merupakan cara untuk menyingkirkan media-media yang tidak dikenal oleh publik. “Jadi seolah-olah media-media yang tidak terkenal itu, pasti hoax padahal tidak demikian,” imbuhnya.

Padahal, kenyataannya, menurut dia, ada media-media alternatif yang tidak menyebarkan berita hoax. “Justru sebaliknya penyebaran berita hoax melibatkan media-media besar dan media mainstream yang selalu buat berita bohong,” kata Kristian.

Barcode, yang diberikan Dewan Pers, justru akan membingungkan. Karena, ketika memberlakukan barcode pada media mainstream, maka mereka akan lolos secara administrasi, karena mereka memiliki perusahaan pers, ada alamat redaksi, dan dilengkapi oleh susunan redaksi, dan itu akan lolos secara administrasi.

“Tapi untuk bentuk konten mereka yang bohong, dewan pers tidak melakukan apa-apa karena sudah lolos barcode, nah ini menjadi ambigu dari kebijakan dewan pers ini,” imbuhnya.

Kristian juga menegaskan, bahwa media alternatif tidak perlu takut dengan kebijakan yang akan diberlakukan oleh dewan pers.

Dia menyarankan, agar media alternatif terus memproduksi berita yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat karena keberadaan media alternatif adalah tuntutan jaman, dan merupakan kebutuhan masyarakat yang selama ini tidak terakomodasi oleh media mainstream yang terlalu mementingkan pertarungan elite.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *